Warga Bersyukur Pulau Umang Dihantam Tsunami Sebelum Pesta Malam Tahun Baru, Ternyata Penyebabnya…

Pulau Umang

MANAberita.com — PULAU Umang, Pulau Oar, dan Pulau Mangir terlihat jelas dari bibir Kampung Cisii, Desa Tangliksari, Kecamatan Cumanggu, Kabupaten Pandeglang, dengan pulau terbesarnya dalah Pulau Umang. Pulau ini sudah lama dijadikan destinasi wisata mewah di kawasan Selat Sunda, yang menjadi salah satu titik yang digulung tsunami pada malam minggu kemarin.

Pulau ini bisa dijangkau dengan perahu motor dari bibir Pantai Sumur, dan jaraknya hanya sekitar 1 kilometer saja dari bibir pantai.

Sebelum tsunami, Pulau Umang sudah dilalap api dalam sebuah musibah kebakaran yang bersumber dari salah satu vilanya. Bagan dan bangkai kapal motor teronggok begitu saja, dilihat dari kejauhan. Rusak. Geliat pulau ini tidak ada.

Sementara, dua warga Kampung Cisii yang bercerita tentang aktivitas pulau ini yang dipenuhi banyak wanita cantik, dan menuduh ada aktivitas judi. Mereka, dan katanya umumnya warga Kecamatan Sumur, sudah lama geram dengan aktivitas Pulau Umang yang menjurus ke “dunia gelap” itu.

Maka mereka bersyukur, Tahun Baru kali ini tak akan diwarnai dengan pesta di pulau yang rata-rata dikunjungi wisatawan dari Jakarta itu.

“Syukur-syukur, sebelum Tahun Baru udah kebakar sama kena tsunami. Tapi kalau nggak, waduh! Orang mana yang gak datang ke Umang? Pasti datang. Mau judi kek mau apa kek, kita gak tahu,” duga Sarma, mengutip Akurat.co.id.

Ia geram karena ia meyakini musibah tsunami ini adalah kutukan Tuhan atas perilaku menyimpang dari banyak turis yang memanfaatkan keindahan bibir pantai di Selat Sunda ini. Sehingga, banyak korban yang jatuh saat tsunami adalah kebanyakan wisatawan.

“Kemarin banyak korban. Saya sampai minta ke tentara untuk lihat mukanya, tapi semua gak saya kenal. Bukan warga sini. Berarti orang jauh,” jelasnya.

Sarma meyakini bahwa tsunami ini adalah karma dari kelakuan para wisatawan.

“Jadi pikir saya, kalau Tuhan bikin kayak gini-gini (tsunami) itu istilahnya dipilih-pilih, Bang. Padahal, di sini tinggi air itu 6 meter, tapi kok nggak bisa sampai ke sana ke perkampungan? Ada apa masalahnya?,” katanya, membenarkan bahwa tak ada satupun warga Cisii yang meninggal, padahal kampung ini luluh lantak.

Menurutnya, warga ikut-ikutan terkena imbas, karena kutukan itu. Padahal, yang melakukan hal-hal aneh yang dimaksudnya seperti judi dan prostitusi adalah para pendatang.

“Jadi masalah kayak gini tuh semua keimbas. Hanya satu dua orang yang bikin, tapi akhir-akhirnya semua orang jadi susah. Keimbas semua,” kesalnya. (Alz)

Artikel Asli

News Feed