Uus Pembawa Bendera Tauhid Jadi Tersangka, Pembakarnya Malah Tidak

  Ayo  Jalan Terus !  –  Polda Jawa Barat (Jabar) menetapkan Uus Sukmana, pembawa bendera bertuliskan lafadz tauhid yang dibakar pada Hari Santri Nasional di Garut, sebagai tersangka.



“Uus naik jadi tersangka pasal 174 KUHP dan sudah diperiksa sebagai tersangka,” kata Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Jawa Barat, Kombes Umar Surya Fana pada Republika.co.id melalui pesan singkat, Jumat (26/10/2018).

Kendati demikian, penahanan tidak dilakukan. Pasalnya, Uus terancam pasal yang hukumannya lebih kecil dari lima tahun penjara. “Tidak bisa ditahan, ancaman hukuman kurang dari lima tahun,” ujar Umar.

Kabareskrim Polri Komjen Arief Sulistyanto mengatakan, pembawa bendera itu terancam pasal 174 KUHP yakni Mengganggu Rapat Umum. Pasal itu berbunyi, barangsiapa dengan sengaja mengganggu rapat umum yang tidak terlarang, dengan mengadakan huru hara, atau membuat gaduh, dihukum penjara selama-lamanya tiga minggu atau denda sebanyak-banyaknya Rp 900.



“Sebenernya saudara Uus inilah orang yang ingin mengganggu kegiatan hari santri nasional itu,” kata Arief Sulistyanto di Mabes Polri, Jakarta, Jumat (26/10).

Sementara itu, tiga pembakar bendera tidak dikenai unsur pidana karena tidak adanya unsur kesengajaan atau niat jahat (mens rea) dalam pembakaran bendera.

Acara peringatan Hari Santri Nasional itu, adalah acara resmi dengan izin kepolisian. Peraturan dalam acara itu tidak memperbolehkan peserta membawa bendera apapun selain bendera merah putih.

Namun, Uus justru membawa bendera hitam bertuliskan lafadz Tauhid, yang diidentifikasi polisi dan Banser sebagai bendera Hizbut Thahrir Indonesia (HTI). Bendera itu, kata dikibar-kibarkan di tongkat bambu di menjelang acara peringatan usai.

Uus pun diminta untuk meninggalkan lokasi acara. Sementara, bendera yang dibawa Uus dibakar Banser dengan alasan agar bendera itu tidak dipakai lagi.

Dalam kasus ini, kepolisian mengaku telah melakukan pemeriksaan secara menyeluruh mulai dari perencanaan acara Hari Santri Nasional di Garut hingga terjadinya insiden pembakaran bendera pada saat acara tersebut usai, Senin (22/10) lalu. Polisi menyatakan tidak ada unsur pidana dalam pembakaran itu.

Tidak adanya unsur pidana, karena polisi menyebut pelaku tidak memiliki niat jahat yang dilakukan pelaku. Pelaku membakar bendera karena menganggap bendera hitam bertuliskan lafadz Tauhid itu sebagai bendera Hizbut Thahrir Indonesia (HTI), organisasi terlarang UU dan tidak merencanakan melakukan pembakaran.

Sumber: https://www.republika.co.id/berita/nasional/hukum/18/10/26/ph7oim354-pembawa-bendera-tauhid-yang-dibakar-jadi-tersangka

***

Respon warganet berang atas penegakkan hukum yang dinilai jungkir balik

ini.

“Sakit Jiwa, Yang Salah Itu Yang Membakar Woooyyy,” ujar akun @Irma_bon.

“Membawa barang yg tdk dilarang UU dan ditempat yg tdk dilarang UU kok tersangka?  Sdg yg ljs jls main hakim sendiri yg mengambil Hk aparat kok bebas..,” komen @AndiSastrawi.

“Ya Allah, Ya Rabb.
Engkaulah sebaik-baik Pemberi balasan penegak hukum dan pemimpin yang zalim! & buta keadilan yang begitu terang benderang.
Benar² pembodohan logika!

#2019gantikezaliman,” kata @asataufiq.

“Ini terobosan baru di bidang hukum pidana. Intinya, pelaku kejahatan adalah korban. Yang bersalah adalah yg menyebabkan timbulnya motif kejahatan.

Wis wayahe edan kabeh,” komen @Anyer_Fury.







 Pria pembawa bendera bertuliskan kalimat tauhid yang dibakar di Garut, Uus Sukmana, diungkapkan polisi adalah simpatisan HTI dan pernah ikut aksi 212 pada 2016. Pihak Persaudaraan Alumni 212 menilai fakta itu tak bisa menjadikan bendera yang dibakar berubah menjadi bendera HTI.

“Penyidik jangan gagal pahamlah,” kata Ketua Umum PA 212, Slamet Maarif, kepada detikcom, Jumat (26/10/2018).

Menurutnya, lebih baik polisi berkonsentrasi terhadap pembakar bendera pada 22 Oktober, bukan kepada Uus pembawa bendera yang dibakar. Pihak polisi yakin bendera itu adalah bendera HTI, ormas yang dilarang pemerintah. Sedangkan PA 212 yakin itu bukan bendera HTI, melainkan bendera tauhid.

“Yang diurus yang bakar kalimat tauhid jangan dialihkan ke mana-mana untuk melindungi penoda agama,” kata Slamet.

Slamet menantang polisi membuktikan bahwa bendera itu adalah bendera HTI. Slamet sangat yakin itu bukan bendera HTI karena bendera seperti itu dikatakannya sudah ada sebelum HTI terbentuk.

“Fakta dan buktinya itu bendera kalimat tauhid yang dibakar, bukan bendera HTI, buktikan secara hukum kalau itu bendera HTI, itu bendera sudah ada sebelum HTI ada. Tulisannya jelas kalimat tauhid, bukan tulisan HTI. Tulisan dengan bahasanya Arab, bukan Indonesia,” tutur Slamet.

Sebelumnya, Kapolda Jabar Irjen Agung Budi Maryoto menyatakan Uus merupakan simpatisan HTI. Uus diduga menjadi simpatisan HTI saat aksi 212 pada 2016.

“Kita tanya apakah kamu pernah mengikuti mungkin semacam penyampaian aspirasi dengan HTI, dijawab pernah tahun 2016 di Jakarta. Dimungkinkan saat acara 212. Jadi dia (Uus) simpatisan HTI,” ujar Agung di Mapolrestabes Bandung.

Aksi 212 digelar pada 21 Desember 2016 di beberapa lokasi dan pusatnya ada di Jakarta. Tuntutan dari aksi tersebut ialah meminta Presiden Jokowi tidak melindungi Basuki Tjahaja Purnama, yang saat itu menjadi Gubernur DKI Jakarta, berkaitan dengan kasus penodaan agama.

Saat HSN di Alun-alun Limbangan Garut, beberapa waktu lalu, Uus kedapatan membawa bendera HTI. Menurut Agung, Uus menyukai bendera tersebut dan mendapatkan bendera itu dengan cara membeli secara online.[dtk]

Terima Kasih sudah membaca, Jika artikel ini bermanfaat, Yuk bagikan ke orang terdekatmu. Sekaligus LIKE fanspage kami juga untuk mengetahui informasi menarik lainnya  @Tahukah.Anda.News

Artikel Asli

News Feed