Tradisi Ujungan, Adu Pukul Rotan dan Janji Manusia kepada Tuhan

Dua pihak akan berdamai seusai pertarungan, meski kadang ada yang menderita cedera. Cedera dalam prosesi Ujungan dimaknai sebagai doa dan harapan.

Yusmanto menjelaskan, Ujungan adalah sebentuk ritual perlambang ungkapan keluh kesah kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Rasa perih dan sakit akibat sabetan rotan adalah jerit tangis manusia setelah lama didera kemarau panjang.

Manusia memanjatkan doa agar Tuhan segera menurunkan hujan. Ritual ini adalah janji manusia kepada Tuhan, demi menghindari penderitaan, mereka akan melestarikan bumi.

“Manusia ingin kehidupan yang lebih baik, lebih baik lagi dan berjanji hidup lestari dengan bersahabat dengan alam semesta,” dia mengungkapkan.

Di wilayah Kabupaten Banjarnegara, tradisi Ujungan berkembang di wilayah Kademangan, dimana kehidupan masyarakat banyak bergantung pada aliran sungai Gumelem dan mata air gunung berbatu.

Tradisi ini diduga merupakan warisan kebudayaan ketika Kerajaan Majapahit berjaya, alias berasal dari ratusan tahun silam. Ritual Ujungan digelar tiap tahun pada puncak kemarau, agar hujan segera tiba.

Festival Ujungan dimulai sejak Rabu (26/9/2018) lalu dengan berbagai rangkaian tradisi. Festival Ujungan dilanjutkan malam harinya dengan pentas seni, mulai seni modern hingga tradisional pada Jumat malam.

Dihadwalkan tampil, ensambel musik Mexico dari Grup Nayeche pimpinan Leon Gilberto Medelin Lopez, penari lengger dari Jepang Jurry Suzuki, dan Sendratari Ujungan dan Barongsay pada malam harinya.

Pada Sabtu (29/9/2018) pukul 10.00 WIB, digelar ruwat bumi yang dipercaya sebagai media untuk menetralisir energi negatif dari alam. Acara itu berlanjut dengan pentas wayang kulit semalam suntuk oleh dalang Ki Pepeng dengan cerita lahirnya Gatotkaca.

Pengunjung juga bisa menyaksikan agenda hiburan lainnya, atau bahkan turut serta dalam kegiatan menarik lain, Misalnya, atraksi Gropyok Iwak, sepeda santai dan lomba mancing. Rangkaian Festival Ujungan ditutup dengan pesta kembang api pada Minggu malam (30/9/2018).

Saksikan video pilihan berikut ini:

Tradis ritual meminta hujan , yang telah dilakukan secara turun temurun oleh petani di desa Candi jati, Kecamatan Arjasa, Jember. Ojug nama dari tradisi meminta hujan, saat kemarau panjang.

Artikel Asli

News Feed