TERUNGKAP ! mengapa nasi padang lebih banyak kalau dibungkus ?

Sudah Tahu Belum? Porsi Nasi Padang Dibungkus Lebih Banyak daripada Makan di Tempat

Kamu penyuka nasi padang? Kalau suka, mungkin perlu tahu informasi ini. Nasi padang kalau dibungkus, porsi nasinya lebih banyak daripada makan di tempat.

Tim kumparan membuktikan soal porsi nasi padang ini. Beberapa restoran nasi Padang di Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan disambangi. Dan hasilnya benar, nasi Padang yang dibungkus mendapat porsi lebih banyak. Perbandingannya, nasi dibungkus mendapat dua porsi, sedang makan di tempat hanya satu porsi.

Kenapa nasi Padang yang dibungkus bisa lebih banyak?

Ada sejarah panjang soal ini. Seorang pemerhati budaya Minang, Zulhendri membeberkan sejumlah alasan soal porsi nasi Padang ini. Menurut dia, orang Sumatera Barat sendiri menyebut restoran nasi Padang dengan sebutan rumah makan Ampera, singkatan dari Amanat Penderitaan Rakyat. Konon ceritanya, beberapa puluh tahun lalu, saat itu Indonesia sedang mengalami kesulitan ekonomi, harga yang melambung tinggi dan situasi politik yang bergejolak, menumbuhkan solidaritas.

“Apalagi saat itu harga daging yang menjadi komoditi rendang harganya sangat mahal, sehingga yang mampu menikmati kelezatan daging sapi dan daging ayam di restoran hanyalah orang berada,” ucap Zul yang juga mahasiswa tingkat akhir sejarah Minang di Universitas Andalas ini saat berbincang beberapa waktu lalu.

Kemudian, karena masyarakat Minang menyebut rumah makannya dengan sebutan Rumah Makan Ampera, ada rasa solidaritas dari pemilik rumah makan Padang kepada mereka yang membeli nasi dengan dibungkus. Ada anggapan kalau mereka yang membeli dibungkus, akan berbagi dengan keluarganya. Karena itu, nasi dilebihkan dengan anggapan agar keluarga si pembeli bisa menikmati bersama nasi Padang itu.

Namun demikian, sebenarnya banyak sekali versi yang beredar di masyarakat tentang sejarah porsi nasi Padang ini. Sebagian orang menyebut porsi yang besar diberikan sebagai solidaritas pemilik restoran bagi pekerja kasar seperti kuli bangunan yang membutuhkan tenaga banyak usai bekerja keras.

Tapi ada juga pendapat lainnya, misalnya karena soal estetika, di mana dengan jumlah nasi lebih banyak akan membuat bungkusan nasi bisa tegak.

Mungkin masih ada pendapat lainnya soal porsi ini. Lalu Bagaimana menurut kamu soal ini?


 Berbicara mengenai rumah makan padang, biasanya yang di ingat menunya yang memicu kolestrol naik namun juga memicu selera makan. Tak diragukan lagi, rumah makan padang menjadi salah satu favorit yang dikunjungi untuk memenuhi hasrat perut. Salah satu lauknya, rendang pun dinobatkan sebagai makanan favorite dunia. Nikmatnyo.




Tapi, lupakan persoalan itu dulu. Pernahkah bertanya dan memperhatikan porsi nasi putih yang diberikan rumah makan padang berbeda saat makan di tempat dengan dibungkus. Porsi nasi Padang yang dibungkus jauh lebih banyak daripada makan di tempat. 

Saat mendaratkan kaki di rumah makan atau restoran padang dan memutuskan untuk makan di sana tanpa membawa pulang, biasanya disuguhi setangkup nasi putih yang ditaburi lauk yang dipilih. Biasanya, porsi nasinya sedikit, hanya satu centong batok berukuran kecil. Barangkali, ucapan ‘Tambuah ciek,’ sering diteriakan kepada pelayan yang nantinya pelayan akan memberikan satu porsi kecil nasi di atas piring kecil disiram kuah gulai.

Namun, saat memutuskan untuk membeli nasi padang ‘take away’ atau dibungkus, biasanya porsi nasinya dua centong batok atau lebih. Ini jauh lebih banyak dari pada makan di tempat.

Pernahkah bertanya mengenai masalah ini? 

Menurut Adrival (18), mahasiswa Universitas Andalas, yang diketahuinya dari cerita salah satu pemilik rumah makan di kota Padang, persoalan ini memiliki sejarah sendiri. Dulu, saat zaman Belanda yang dapat menikmati masakan padang di rumah makan padang adalah orang-orang elite. Seperti Saudagar kaya dan kolonial Belanda. Mereka itu biasanya yang meramaikan rumah makan padang dahulunya. 

Namun, pemilik rumah makan padang ingin orang-orang pribumi dapat menikmati juga masakan daerahnya sendiri. Maka, diakalilah dengan cara di bungkus. Orang-orang pribumi dapat menikmati masakan daerah sendiri dengan cara tidak makan di tempat. Porsi nasinya pun dibanyakin agar orang pribumi bisa berbagi dengan lainnya.

“Jadi membeli satu bungkus nasi bisa dimakan untuk dua orang,” cerita Adrival saat dihubungi merdeka.com, Rabu (7/5).

Adrival pun menambahkan, kalau dulunya rumah makan padang juga dikenal dengan rumah makan Ampera. Nama Ampera sendiri berasal dari Amanat Penderitaan Rakyat.

“Makanya kalau di sini (Padang), rumah makan yang disebut Ampera jauh lebih murah dari rumah makan biasa,” lanjutnya.

Namun menurut sastrawan asal Padang, Yusrizal ini persoalan biaya pelayanan. Jika makan di tempat, orang-orang mendapat pelayanan lebih dari pada yang dibawa pulang atau di bungkus. Dia menyebutkan, di kota Padang membeli makanan apapun kalau di bawa pulang memang jauh lebih banyak porsinya dibanding makan di tempat.

“Contohnya kalau beli soto, nasi dan kuah soto lebih banyak kalau di bawa pulang.” ujarnya kepada merdeka.com

Lain lagi pendapat Eka, warga asal Pariaman menyebutkan bahwa persoalan porsi ini terkait biaya sabun cuci dan upah mencuci piring. “Makanya, makan di tempat porsinya lebih sedikit,” tambah Eka.

Sementara pemilik salah satu rumah makan padang kawasan Kedoya, Dedi (36) mengatakan, bahwa persoalan porsi ini sudah turun menurun dan sekedar budaya. Dirinya hanya mengikuti saja. 

“Wah ndak tahu, banyak yang kayak gituh. Abang cuma ngikuti saja,” ujar Dedi.

Sedangkan menurut Doni, pemilik rumah makan di kawasan Pesakih Kalideres, persoalan porsi yang berbeda ini hanya karena faktor kemudahan. Bila makan di tempat, kurang bisa ‘tambuah ciek’ (tambah satu). Sedangkan kalau dibungkus tidak bisa lagi minta tambah sehingga seringkali nasinya diperbanyak.

Terlepas dari pertanyaan ini, sebenarnya tidak semua rumah makan padang yang membedakan porsi nasi yang makan di tempat atau nasi yang dibungkus. Pandai-pandai andalah mencari rumah makan padang yang tidak membedakan porsi nasi yang dibungkus atau makan di tempat. [hhw]




Jika membeli nasi padang, bisa dipastikan porsi take away akan lebih banyak dibanding makan di tempat. Ternyata ada alasan di balik hal tersebut.


Jangan heran jika Anda membawa pulang sebungkus nasi padang dan menemukan porsi yang super besar untuk dimakan. Hal ini merupakan kebiasaan warga Minang dan dilakukan oleh seluruh restoran Padang di Nusantara.


“Kalau dibungkus, nasinya pasti lebih banyak. Memang begitu kebiasaannya, di semua restoran,” tutur Reno Andam Suri, ahli kuliner Minang sekaligus penulis buku ‘Rendang Traveler: Menyingkap Bertuahnya Rendang Minang’ kepada KompasTravel, Rabu (25/5/2016).


Menurut Uni Reno, hal ini didasari beberapa alasan. Pertama, semua orang Minang menyadari bahwa mereka yang nasinya dibawa pulang tidak akan makan sendirian.


“Kalau dibawa ke rumah, pasti untuk lebih dari satu orang,” tuturnya.


Kedua, di setiap tempat, nasi bungkusan punya patokan tersendiri. Di Jakarta misalnya, ada patokan berapa centong nasi (centong ini terbuat dari batok kelapa) untuk pengunjung yang pesan take away.


“Entah kenapa, memang sudah ada patokan banyaknya nasi untuk dibungkus. Besarnya akan lebih bagus jika nasinya sekian centong. Jadi memikirkan estetikanya juga,” papar Uni Reno. 


Oleh karena itu, mereka yang nasinya dibawa pulang pasti akan mendapat beberapa ‘bonus’. Jika pesannya nasi dan ayam, akan mendapatkan ‘bonus’ seperti kuah kari, sayur nangka, daun singkong rebus, sambal hijau.


“Kalau nasinya banyak dan lauknya cuma satu, sepertinya ada yang kurang. Orang Padang paham betul itu,” tambah wanita yang kini berbisnis Rendang Uni Farah itu.


Meski begitu, kebijakan penambahan harga berbeda di setiap rumah makan padang. Ada restoran yang tidak menerapkan penambahan harga untuk nasi yang dibungkus, ada pula sebaliknya.


Salah satu rumah makan padang tertua di Jakarta, RM Sepakat misalnya, menambah harga nasi yang dibungkus sebesar Rp 1.000. Rumah makan ini dibuka sejak 1969, dan memiliki dua cabang yakni Blok M Square dan Pasar Mayestik.

“Itu untuk biaya kertas, seperti itulah. Kalau dibawa pulang sudah termasuk nasi tambah,” tutur Yuniar (55), salah satu anak pendiri RM Sepakat yang meneruskan bisnis orangtuanya.





Terima Kasih sudah membaca, Jika artikel ini bermanfaat, Yuk bagikan ke orang terdekatmu. Sekaligus LIKE fanspage kami juga untuk mengetahui informasi menarik lainnya  @Tahukah.Anda.News

Artikel Asli

News Feed