Tahmil Selamat dari Tsunami Palu karena Sembunyi di Bawah Jembatan Kuning, Berikut Kisahnya

  Ayo  Jalan Terus !  –  Salah satu ikon Kota Palu, Jembatan Ponulele atau yang dikenal dengan sebutan Jembatan Kuning menjadi saksi bisu gempa dan tsunami, 28 September lalu.

Jembatan yang khas dengan bentuk melengkung dan berwarna kuning ini ambruk diguncang gempa dan disapu tsunami.

Sebelum bencana terjadi, jalur Jembatan Kuning ditutup karena ada acara Palu Nomoni.

Namun demikian ada sejumlah warga dan petugas yang berjaga di jembatan tersebut.

Hal itu pula yang menjelaskan tercatat sejumlah anggota Polri, Satpol PP dan warga yang menjadi korban jiwa di jembatan yang juga kerap disebut Jembatan Palu IV ini.

Tapi, tak semua yang berada di jembatan itu menjadi korban meninggal gempa dan tsunami.

Tahmil (41) salahnya. Ia lantas bersedia menceritakan detik-detik dirinya selamat dari gempa dan tsunami saat menerjang jembatan yang diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 2006 lalu itu.

“Saat gempa terjadi saya duduk di anjungan. Tiba-tiba gempa, saya berlari ke arah Jembatan Kuning,” kata Tahmil kepada Pojoksatu.id, Selasa (16/10/2018).

Namun Tahmil kembali mendapat ancaman bahaya ketika melihat gelombang tsunami yang begitu tinggi mengarah ke bibir pantai.

“Saya langsung lompat ke tembok jembatan dan pegangan tiang pembatasnya,” jelasnya.

Pegangan Tahmil ternyata tidak cukup kuat menahan hempasan gelombang tsunami yang sangat keras.

Ia pun kemudian ikut terseret gelombang tinggi itu. Beruntung Tahmil bisa terdampar di daratan.

“Saya lari lagi ke jalan raya dan terus lari ke tempat yang lebih tinggi,” tuturnya.

Warga Perumnas Balaroa, Kota Palu ini mengaku bahwa dirinya saat itu sudah tidak tahu arah.

Yang ia tahu, dirinya hanya berusaha berlari sekencang-kencangnya karena takut air tsunami kembali menerjangnya.

“Saya juga tidak sadar lari kemana. Tiba-tiba sudah di SPBU Imam Bonjol (jaraknya 1,3 kilometer dari pantai),” katanya.

Menurut Tahmil, banyak petugas di Jembatan Kuning yang berjatuhan dan terseret tsunami saat bencana terjadi.

Seperti diketahui, saat bencana terjadi, jembatan tersebut ambruk dan terbelah. Dan kini tak bisa lagi dilintasi.

“Sebenarnya bisa dikatakan beruntung hari itu jembatan ditutup.

Sebab biasanya kalau sore hari, jembatan itu ramai oleh warga yang ingin menikmati suasana di anjungan dan pemandangan di sepanjang pantai Talise.

Bahkan pasca bencana terjadi, Jembatan Kuning masih ramai dikunjungi warga.

Tapi kini mereka hanya bisa berfoto dan mengabadikan kondisi terkini ikon Kota Palu yang sudah ambruk.

(fat/pojoksatu)

Terima Kasih sudah membaca, Jika artikel ini bermanfaat, Yuk bagikan ke orang terdekatmu. Sekaligus LIKE fanspage kami juga untuk mengetahui informasi menarik lainnya  @Tahukah.Anda.News

Artikel Asli

News Feed