#PrabowoMenyapaJawa, Tapi Dilarang Shalat Jum’at di Masjid Agung Semarang (Masjid Kauman)

Hanief menilai salat Jumat diadakan Prabowo bernuansa politis. Pihaknya melihat acara itu telah diumumkan besar-besaran. Ribuan pamflet, telah disebar seantero Kota Semarang. Termasuk ditempel di kampus-kampus dan masjid-masjid. Pamflet dan narasi undangan untuk ikut salat Jumat bersama Prabowo itu juga telah viral di media sosial sejak Rabu (13/2).

Hanief menjelaskan, pihaknya juga tidak pernah mendapat surat dari tim kampanye Prabowo-Sandi maupun dari partai pengusung pasangan capres-cawapres tersebut.

“Kami tidak pernah memperoleh surat apapun dari pihak Pak Prabowo atau partai pengusungnya. Jadi kami tidak terlibat dengan rencana adanya shalat Jumat capres tersebut,” kata dia menegaskan.

Hanief menambahkan pada prinsipnya takmir atau pengurus Masjid Kauman mempersilakan siapapun untuk salat di masjid tersebut. Namun pihak Takmir keberatan apabila peristiwa salat itu dipolitisasi.

“Kami mempersilakan siapa saja boleh salat di Masjid Kauman. Tapi kalau untuk pencitraan kampanye, itu berpotensi melanggar aturan dan menodai kesucian masjid sebagai tempat ibadah,” ujarnya.

Sementara itu mantan Panwalu Kota Semarang, Mochamad Ichwan mengaku sudah mengirim pesan kepada

ketua Bawaslu Kota Semarang Muhammad Amin.

“Saya memberi saran agar ada laporan resmi kepada Bawaslu,” tutur Pengurus Lakpesdam PCNU Kota Semarang ini.

Ichwan lantas menyarankan Hanief agar membuat surat resmi atau maklumat tentang sikap keberatan pihak Takmir Masjid Agung Semarang.

“Saya tadi menyampaikan saran kepada Kiai Hanief Ismail agar membuat surat resmi,” tuturnya.

Ichwan menerangkan, secara hukum yang akan menentukan apakah salat Jumat Prabowo berisi kampanye atau tidak merupakan kewenangan Bawaslu. Dari hasil komunikasi dia dengan Ketua Bawaslu Kota Semarang, klaimnya, dia mendapat informasi bahwa Bawaslu Kota Semarang akan melakukan pengawasan acara tersebut.

Link: https://www.cnnindonesia.com/nasional/20190214093659-32-369156/takmir-keberatan-prabowo-salat-jumat-di-masjid-kauman

Koordinator Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Dahnil Anzar Simanjuntak menyesalkan penolakan ini.

“Pak @prabowo mau shalat jumat kok dilarang-larang, beliau pasti shalat jumat dilokasi terdekat dimana beliau sedang ada acara, tenang saja, beliau shalatnya tetap menghadap kiblat kok, bukan menghadap kamera,” kata Dhanil melalui akun twitternya, Kamis (14/2/2019).

Anggota BPN yang lain, Andre Rosiade membantah shalat Jum’at Prabowo sebagai politisasi.

“Dan yang jelas, memangnya Pak Prabowo akan berkampanye di sana? Akan berpidato di masjid?” kata Andre.

Andre menuding justru pihak masjid yang telah mempolitisasi situasi tersebut dengan melarang Prabowo salat Jumat di sana. Andre mengingatkan, masjid bukanlah milik pengurus, melainkan milik semua umat Muslim.

“Justru Jokowi yang melakukan politisasi tiap salat Jumat. Lihat berapa banyak wartawan yang mengambil ruang untuk mengambil gambar. Lihat setiap Pak Jokowi salat saf satu barisan mundur hanya untuk para wartawan mengambil gambar,” ujarnya.

Capres Prabowo Dilarang Shalat Jum’at!



Mengikuti perkembangan ‘serangan’ kubu petahana dalam pilpres 2019 rasa-rasanya bikin otak makin panas di tengah makin rumitnya mendapatkan pekerjaan di negeri ini.

Alih-alih disibukkan dengan adu program yang berkualitas, masyarakat justru dihadapkan pada pertarungan isu yang gak ngaruh secuil pun terhadap isi dompet masyarakat. Terbaru, kontradiksi keramaian capres-cawapres berkisar pada soal Shalat Jum’at.

Ini sangat miris. Shalat Jum’at yang seharusnya sakral dan menjadi momen persatuan ummat, malah dipolitisasi. Konyol pakai kuah. Dungu kuadrat.

Gimana gak konyol jika sebelumnya mereka sibuk bertanya, “Prabowo shalat Jum’at dimana?” bahkan sampai viral di media sosial, kini oknum yang diduga kaki tangan mereka melarang Prabowo shalat Jum’at. 

Menjadi dungu kuadrat ketika Kiyai yang melarang meminta kepada KPU dan Bawaslu untuk melakukan klarifikasi atau tindakan yang sesuai dengan hukum.



Lah? Ini Pak Kiyai apa gak pernah buka medsos ya? Beliau jelas tidak tahu siapa yang suka politisasi saat shalat.

Beliau gak pernah lihat postingan Gubernur Hafizh Quran yang memuji shalat Maghrib seseorang, padahal viral di medsos bahwa bacaan dia yang jadi imam medok seperti bacaan saya. 

Kiyai juga gak pernah lihat foto-foto Pemimpin kagetan itu saat shalat sendirian. Bahkan baru-baru ini, video seorang kiyai disingkirkan karena menghalangi kamera untuk memotret sosok bergelar Janc*k saat akan shalat di sebuah masjid.

Belum lagi kesaksian terbaru dua ustadz yang memuji keislaman Si Bapak yang suka selfie padahal saat aksi 411 di depan istananya, ulama ditembaki gas air mata. Saya ngerasain juga loh. Pedas. Bikin batuk.

Maka kita layak merasa miris sekaligus sedih berlipat-lipat. Bagaimana mungkin dua kondisi diberlakukan kepada orang yang sama?

Kemarin ditanya shalat Jum’at dimana, sekarang dilarang shalat Jum’at. Apa karena uang kampanye belum cair jadi melakukan dua tindakan kontradiksi? Atau masing-masing faksi sedang modus, berebut agar viral yang dengannya pencairan dana dipercepat? 

Pirman

Pecinta Keluarga Sejati

#PrabowoMenyapaJawa, Bos Banteng ‘Pingsan’, Masjid Ditutup!

#PrabowoMenyapaJawa, Bos Banteng Pingsan, Masjid Ditutup!

Serangan ke kandang Banteng makin massif. Setelah Sandi berhasil mengobrak-abrik kandangnya, Prabowo langsung menghentak, menyerang menuju jantung kandang.

Usai blingsatan, Banteng bubar kandang. Bosnya pun bersiap pingsan. Jika taqdir, bisa jadi lekas ditamui Izrail. Tapi taqdir, tak ada yang tahu.

Berbeda dengan Sandi yang berlari lincah dan menyerang ke semua arah, Prabowo lebih elegan, tapi telak. Ia langsung menyerang pusat pertahanan Banteng; Banjarnegara, Purbalingga, dan sekitarnya.

Gaya yang digunakan Prabowo pun mirip kebiasaan yang digunakan dalam kampanye Banteng. Di ruang terbuka. Lapangan berumput. Ada panggung besar. Dibumbui sedikit musik sebelum menu utama berupa orasi berkobar.

Prabowo yang tak bisa terbang di atas massa pun dipanggul di pundak ribuan massa, bergerak santai sambil menyanyikan lagu kemenangan; ayo kita salam dua jari, pilih Prabowo-Sandi, biar kita happy. Diulang-ulang, dibumbui goyang wayang, semua bahagia. Tapi bahagia itu hadirkan panik dan takut bagi kubu sebelah. Pasti!

Telak! Meski tak disiarkan media nasional, tetapi viral. Warga telah menjadi arus media baru, memanfaatkan kuota internet ala kadarnya, disiarkan melalui ruang-ruang media sosial, kemudian masuk ke ponsel-ponsel canggih di tangan warga secara langsung. Orisinil. Bukan robot apalagi pasukan nasi bungkus.


Tagar #PrabowoMenyapaJawa terdengar indah, mudah diingat dan diperbincangkan. Ditambah dengan bumbu surat dari Ibu Suci, pensiunan guru berusia 65 tahun. Permintaan Ibu Suci sederhana, “Tambah jumlah jam pelajaran agama dan angkat guru baru yang punya kapasitas.”

Menurut Ibu Suci, tak cukup jika satu pekan hanya satu jam pelajaran Agama. Harus ditambah. Si Ibu sepertinya paham sekaligus menyindir, satu tak akan cukup untuk masalah bangsa yang kian rumit ini.

Video lain yang viral, Prabowo menyapa dari dalam mobil, dikejar-kejar warga. Bukan warga bayaran tetapi warga kampung yang benar-benar rindu pemimpin sejati, yang tegas dan punya karakter. Sebab mereka bosan dengan tampang lugu yang ternyata kawannya sesama kader Banteng korupsi 5,8 triliun.

Maka wajar jika bos Banteng pingsan. Terkonfirmasi. Sebelum pingsan, dia marah-marah. Dan esoknya, ada kejadian yang tak kalah memalukan.

Apa itu? Ada pengurus masjid yang menolak Prabowo mendirikan shalat Jum’at di masjid itu. Lah? Emang sejak kapan masjid menjadi milik pengurus? Sejak kapan seseorang dilarang mendirikan shalat Jum’at hanya karena dirinya capres?

Jika semua masjid di negeri ini menolak shalat Jum’at seorang capres, apakah capres-cawapres harus libur shalat Jum’at? Maukah pengurus masjid itu menanggung dosanya karena melarang seorang hamba Allah mendirikan shalat Jum’at? Lagi pula, berapa sih sumbangan pelaku pelarangan itu ke masjid tersebut?

Oh… Kata pengurus masjid, karena Prabowo tidak izin dan enggan dipolitisasi masjidnya. Baru tahu ya, ternyata untuk shalat Jum’at harus izin. Dikira petugas partai kali ya, yang harus izin kepada Emaknya. Ada-ada saja!

Pirman
Pecinta Keluarga Sejati 

Artikel Asli

News Feed