Pemkab Bireun Edarkan Larangan Minum Kopi tanpa Muhrim

Pemerintah Kabupaten Bireun, Provinsi Aceh, mengeluarkan edaran terkait standardisasi pelaksanaan syariat islam untuk warung kopi, kafe dan restoran tertanggal 30 Agustus 2018.

Edaran tersebut ditandatangani oleh Bupati Bireun, Saifannur.

Kepala Dinas Syariat Islam Kabupaten Bireun Jufliwan menegaskan bahwa imbauan yang dikeluarkan tersebut adalah berupa tata laksana yang harus dilakukan oleh warga sesuai dengan aturan syariat islam.

“Ini bukan aturan melainkan imbauan dan ini merupakan sosialisasi kepada masyarakat, bahwa kita selaku muslim berkomitmen melaksanakan syariat Islam dalam praktek kehidupan sehari-hari,” tegas Jufliwan kepada Kompas.com melalui telpon selulernya.

Jufliwan sendiri mengakui kalau imbaan sosialisasi ini sudah ada sejak tahun 2017, lalu bahkan jauh sebelumnya. Hal ini bertujuan untuk terus meminimalisir praktek-praktek non syariat islam.

Menurut dia, dalam edaran tersebut ada 14 butir imbauan. Salah satunya menyebutkan bahwa pekerja perempuan yang bekerja di kafe harus selesai pada pukul 21.00 WIB.

Butir lain menyebutkan, warung atau kafe tidak boleh melayani pelanggan perempuan di atas pukul 21.00 kecuali dengan muhrimnya (suami atau saudara).

Butir lain juga menyebutkan, haram hukumnya laki-laki dan perempuan makan dan minum satu meja kecuali dengan muhrimnya.

Jufliwan mengatakan, hal itu bertujuan tidak lain untuk menjaga kemaslahatan kaum perempuan itu sendiri.

“Begitu juga dengan imbauan tidak nongkrong di warung kopi atau café atau minum kopi semeja dengan yang bukan muhrimnya, mereka boleh saja duduk semeja jika ada muhrimnya, ini juga untuk menjaga martabat seseorang,” jelas Jufliwan, Rabu (5/9/2018).

Sebagai informasi, di kabupaten Bireun, sejak awal pekan ini diedarkan imbauan tentang standardisasi warung kopi atau kafe dan restoran sesuai dengan syariat Islam. Imbauan yang ditanda tangani oleh Bupati Bireun ini berisi 14 poin.

Di antaranya point nomor 5 berisikan bahwa pekerja perempuan dilarang bekerja diatas pukul 21.00 WIB, dan point no 13 yang tidak mengijinkan pelanggan perempuan dan laki-laki makan dan minum pada satu meja kecuali ditemani oleh muhrimnya masing-masing.

“Aturan keluar malam jam 21.00 WIB itu kan aturan gubernur dulu (masa Zaini Abdullah) kita tindak lanjuti. Edaran ini kami bikin agar masyarakat jadi lebih bagus, jangan sampai mengarah ke pergaulan bebas. Itu arahnya kan ke sana, sehingga tidak mencederai aturan syariat Islam,” jelas Jufliwan.

Pro dan kontra

Surat edaran tersebut menjadi perdebatan alot di kalangan warga Bireun. Ihsan (27), salah satu pengunjung warung kopi keberatan dengan imbauan tersebut.

“Terkadang sering juga membahas hal-hal terkait pekerjaan di warung kopi usai jam kerja bersama teman, termasuk ada teman perempuan, dan lokasinya pun terbuka, jadi mungkin bisa dibatasi untuk warung kopi atau kafe yang tempatnya tertutup barangkali,” ujar Ihsan.

Sementara, Sarah (20) seorang mahasiswi asal Bireun, mengaku mendukung adanya imbauan yang dilakukan oleh pemerintah Kabupaten setempat.

“Banyak juga sih, para pengunjung warung kopi pulangnya terlalu malam. Jadi kalau ada imbauan seperti ini, bagus juga jadi tidak berlama-lama duduk nongkrong di warung kopi, kecuali mungkin bersama keluarga atau memang ada keperluan terkait usaha atau bisnis,” jelas Sarah.

Penulis: Kontributor Banda Aceh, Daspriani Y Zamzami

Editor: Aprillia Ika

Artikel Asli

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed