[Nasihat Bijak Hari ini ๐Ÿ™‚] Jangan Berputus Asa Terhadap Segala Sesuatu yang Luput Darimu

ย ย Ayoย ย Jalan Terusย ย –ย Segala puji bagi Allah, Rabb pemberi segala nikmat dan menakdirkan segala sesuatu dengan penuh hikmah. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.


b




Di pagi yang berbahagia, di bulan penuh berkah dan bulan semangat untuk mentadabburi Al Qurโ€™an, ada sebuah ayat yang patut direnungkan oleh kita bersama. Ayat tersebut terdapat dalam surat Al Hadid, tepatnya ayat 22-23. Inilah yang seharusnya kita gali hari demi hari di bulan suci ini. Karena merenungkan Al Qurโ€™an, meyakini dan mengamalkannya tentu lebih utama daripada sekedar membaca dan tidak memahami artinya.

Allahย Taโ€™alaย berfirman,

ู…ูŽุง ุฃูŽุตูŽุงุจูŽ ู…ูู†ู’ ู…ูุตููŠุจูŽุฉู ูููŠ ุงู„ู’ุฃูŽุฑู’ุถู ูˆูŽู„ูŽุง ูููŠ ุฃูŽู†ู’ููุณููƒูู…ู’ ุฅูู„ู‘ูŽุง ูููŠ ูƒูุชูŽุงุจู ู…ูู†ู’ ู‚ูŽุจู’ู„ู ุฃูŽู†ู’ ู†ูŽุจู’ุฑูŽุฃูŽู‡ูŽุง ุฅูู†ู‘ูŽ ุฐูŽู„ููƒูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูŠูŽุณููŠุฑูŒ (22) ู„ููƒูŽูŠู’ู„ูŽุง ุชูŽุฃู’ุณูŽูˆู’ุง ุนูŽู„ูŽู‰ ู…ูŽุง ููŽุงุชูŽูƒูู…ู’ ูˆูŽู„ูŽุง ุชูŽูู’ุฑูŽุญููˆุง ุจูู…ูŽุง ุขูŽุชูŽุงูƒูู…ู’ ูˆูŽุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ู„ูŽุง ูŠูุญูุจู‘ู ูƒูู„ู‘ูŽ ู…ูุฎู’ุชูŽุงู„ู ููŽุฎููˆุฑู (23)

โ€œTiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diriโ€ (QS. Al Hadid: 22-23)

Berikut beberapa faedah yang bisa diperoleh dari ayat di atas:

Faedah pertama

Yang dimaksud dengan โ€œlauhโ€ adalah lembaran dan โ€œmahfuzhโ€ artinya terjaga. Kata Ibnu Katsir, Lauhul Mahfuzh berada di tempat yang tinggi, terjaga dari penambahan, pengurangan, perubahan dan penggantian.[1] Di dalam Lauhul Mahfuzh dicatat takdir setiap makhluk. Lauhul Mahfuzh dalam Al Qurโ€™an biasa disebut denganย Al Kitab,ย Al Kitabul Mubin,ย Imamul Mubin,ย Ummul Kitab, danย Kitab Masthur.[2]

Faedah kedua

Setiap musibah dan bencana apa pun itu yang menimpa individu atau menimpa khalayak ramai, baik itu gempa bumi, kekeringan, kelaparan, semua itu sudah dicatat di kitab Lauhul Mahfuzh. Sebagaimana disebutkan dalam hadits Nabiย shallallahu โ€˜alaihi wa sallam,

ูƒูŽุชูŽุจูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ู…ูŽู‚ูŽุงุฏููŠุฑูŽ ุงู„ู’ุฎูŽู„ุงูŽุฆูู‚ู ู‚ูŽุจู’ู„ูŽ ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽุฎู’ู„ูู‚ูŽ ุงู„ุณู‘ูŽู…ูŽูˆูŽุงุชู ูˆูŽุงู„ุฃูŽุฑู’ุถูŽ ุจูุฎูŽู…ู’ุณููŠู†ูŽ ุฃูŽู„ู’ููŽ ุณูŽู†ูŽุฉู

โ€œAllah mencatat takdir setiap makhluk 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.โ€[3]

Dalam hadits lainnya disebutkan,

ุฅูู†ู‘ูŽ ุฃูŽูˆู‘ูŽู„ูŽ ู…ูŽุง ุฎูŽู„ูŽู‚ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุงู„ู’ู‚ูŽู„ูŽู…ูŽ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุงูƒู’ุชูุจู’. ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ู…ูŽุง ุฃูŽูƒู’ุชูุจู ู‚ูŽุงู„ูŽ ุงูƒู’ุชูุจู ุงู„ู’ู‚ูŽุฏูŽุฑูŽ ู…ูŽุง ูƒูŽุงู†ูŽ ูˆูŽู…ูŽุง ู‡ููˆูŽ ูƒูŽุงุฆูู†ูŒ ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ุฃูŽุจูŽุฏู

โ€œSesungguhnya awal yang Allah ciptakan (setelah โ€˜arsy, air dan angin[4]) adalah qolam (pena), kemudian Allah berfirman, โ€œTulislahโ€. Pena berkata, โ€œApa yang harus aku tulisโ€. Allah berfirman, โ€œTulislah takdir berbagai kejadian dan yang terjadi selamanyaโ€[5]

Faedah ketiga

Takdir yang dicatat di Lauhul Mahfuzh tidak mungkin berubah sebagaimana maksud dari ayat yang kita bahas. Begitu pula disebutkan dalam hadits Ibnu โ€˜Abbasย radhiyallahu โ€˜anhuma,

ุฑูููุนูŽุชู ุงู„ุฃูŽู‚ู’ู„ุงูŽู…ู ูˆูŽุฌูŽูู‘ูŽุชู ุงู„ุตู‘ูุญููู

โ€œPena telah diangkat dan lembaran catatan (di Lauhul Mahfuzh) telah keringโ€.[6]

Al Mubarakfuriย rahimahullahย berkata,

ูƒูุชูุจูŽ ูููŠ ุงู„ู„ู‘ูŽูˆู’ุญู ุงู„ู’ู…ูŽุญู’ูููˆุธู ู…ูŽุง ูƒูุชูุจูŽ ู…ูู†ู’ ุงู„ุชู‘ูŽู‚ู’ุฏููŠุฑูŽุงุชู ูˆูŽู„ูŽุง ูŠููƒู’ุชูŽุจู ุจูŽุนู’ุฏูŽ ุงู„ู’ููŽุฑูŽุงุบู ู…ูู†ู’ู‡ู ุดูŽูŠู’ุกูŒ ุขุฎูŽุฑู

โ€œDicatat di Lauhul Mahfuzh berbagai macam takdir. Ketika selesai pencatatan, tidaklah satu pun lagi yang dicatat.โ€[7]

Intinya, al kitabah (pencatatan) ada dua macam: (1) pencatatan yang tidak mungkin diganti dan dirubah, yaitu catatan takdir di Lauhul Mahfuzh; (2) pencatatan yang dapat diubah dan diganti, yaitu catatan di sisi para malaikat. Allahย Taโ€™alaย berfirman,

ูŠูŽู…ู’ุญููˆุง ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ู…ูŽุง ูŠูŽุดูŽุงุกู ูˆูŽูŠูุซู’ุจูุชู ูˆูŽุนูู†ู’ุฏูŽู‡ู ุฃูู…ู‘ู ุงู„ู’ูƒูุชูŽุงุจู

โ€œAllah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauh Mahfuzh).โ€ (QS. Ar Roโ€™du: 39). Catatan yang terakhir yang terjadi itulah yang ada di Lauhul Mahfuzh.

Dari sini kita bisa memahami berbagai hadits yang membicarakan bahwa silaturahmi (menjalin hubungan dengan kerabat) bisa memperpanjang umur dan melapangkan rizki, atau doโ€™a bisa menolak takdir. Di sisi Allah, yaitu ilmu-Nya, Allah mengilmui bahwa hamba-Nya menjalin hubungan kerabat dan berdoโ€™a kepada-Nya. Ini di sisi ilmu Allah. Lantas Allahย Taโ€™alaย mencatatnya di Lauhul Mahfuzh keluasan rizki dan bertambahnya umur.[8]

Artinya di sini, Allah Taโ€™ala telah mengilmi bahwa hamba-Nya melakukan silaturahmi atau berdoโ€™a kepada-Nya. Demikian yang Allah catat di Lauhul Mahfuzh yaitu adanya keluasan rizki dan bertambahnya umur.

Ibnu Taimiyahย rahimahullahย ketika ditanya apakah rizki yang telah ditakdirkan bisa bertambah dan berkurang, beliau rahimahullah menjawab, โ€œRizki itu ada dua macam.ย Pertama, rizki yang Allah ilmui bahwasanya Allah akan memberi rizki pada hamba sekian dan sekian. Rizki semacam ini tidak mungkin berubah.ย Kedua, rizki yang dicatat dan diketahui oleh Malaikat. Ketetapan rizki semacam ini bisa bertambah dan berkurang sesuai dengan sebab yang dilakukan oleh hamba. Allah akan menyuruh malaikat untuk mencatat rizki baginya. Jika ia menjalin hubungan silaturahmi, Allah pun akan menambah rizki baginya.โ€[9]

Jadi sama sekali takdir yang ada di Lauhul Mahfuzh tidak berubah, yang berubah adalah catatan yang ada di sisi Malaikat, dan itu pun sesuai ilmu Allahย Taโ€™ala.

Faedah keempat

Musibah yang terjadi di muka bumi dan terjadi pada diri manusia, itu telah dicatat di kitab sebelum diciptakannya makhluk. Inilah tafsiran yang lebih baik pada firman Allah,

ุฅูู„ู‘ูŽุง ูููŠ ูƒูุชูŽุงุจู ู…ูู†ู’ ู‚ูŽุจู’ู„ู ุฃูŽู†ู’ ู†ูŽุจู’ุฑูŽุฃูŽู‡ูŽุง

โ€œmelainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannyaโ€, yang dimaksud dengan menciptakannya di sini adalah penciptaan makhluk. Demikian dipilih oleh Ibnu Katsirย rahimahullah. Pendapat ini didukung dengan riwayat dari Ibnu Jarir, dari Manshur bin โ€˜Abdirrahman, ia berkata, โ€œSetiap musibah di langit dan di bumi telah dicatat di kitab Allah (Lauhul Mahfuzh) sebelum penciptaan makhluk.โ€[10]

Faedah kelima

Tidaklah suatu musibah itu terjadi kecuali disebabkan karena dosa. Qotadahย rahimahullahย mengatakan, โ€œTelah sampai pada kami bahwa tidaklah seseorang terkena sobekan karena terkena kayu, terjadi bencana pada kakinya, atau kerusakan menimpa dirinya, melainkan itu karena sebab dosa yang ia perbuat. Allah pun dapat memberikan maaf lebih banyak.โ€[11]

Faedah keenam

Ayat ini adalah di antara dalil untuk menyanggah pemahaman Qodariyah yang menolak ilmu Allah yang telah dulu ada[12]. Artinya, Qodariyah meyakini bahwa Allah baru mengilmui setelah kejadian itu terjadi. Padahal sebagaimana disebutkan dalam hadits โ€˜Abdullah bin โ€˜Amr bin Al โ€˜Ash,โ€ย Allah mencatat takdir setiap makhluk 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.โ€ย [13]

Faedah ketujuh

Maksud firman Allah,

ุฅูู†ู‘ูŽ ุฐูŽู„ููƒูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูŠูŽุณููŠุฑูŒ

โ€œSesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.โ€ Yaitu Allah mengetahui segala sesuatu sebelum penciptaan sesuatu tersebut. Allah pun telah mencatatnya. Ini sungguh amat mudah bagi Allah karena Allah Maha Mengetahui sesuatu yang telah terjadi, sesuatu yang tidak terjadi dan mengetahui sesuatu yang tidak terjadi seandainya ia terjadi.[14] Sungguh Maha Luas Ilmu Allah.

Faedah kedelapan

Segala sesuatu yang telah ditakdirkan akan menimpa seseorang, tidak mungkin luput darinya. Segala sesuatu yang tidak ditakdirkan baginya, tidak mungkin akan menimpanya. Inilah yang dimaksudkan dalam sabda Nabiย shallallahu โ€˜alaihi wa sallam,

ูˆูŽุชูŽุนู’ู„ูŽู…ูŽ ุฃูŽู†ู‘ูŽ ู…ูŽุง ุฃูŽุตูŽุงุจูŽูƒูŽ ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽูƒูู†ู’ ู„ููŠูุฎู’ุทูุฆูŽูƒูŽ ูˆูŽุฃูŽู†ู‘ูŽ ู…ูŽุง ุฃูŽุฎู’ุทูŽุฃูŽูƒูŽ ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽูƒูู†ู’ ู„ููŠูุตููŠุจูŽูƒูŽ

โ€œHendaklah engkau tahu bahwa sesuatu yang ditakdirkan akan menimpamu, tidak mungkin luput darimu. Dan segala sesuatu yang ditakdirkan luput darimu, pasti tidak akan menimpamu.โ€[15]

Jika demikian, tidak perlu seseorang merasa putus asa dari apa yang tidak ia peroleh. Karena jika itu ditakdirkan, pasti akan terjadi.[16] Oleh karena itu, Allahย Taโ€™alaย berfirman,

ู„ููƒูŽูŠู’ู„ูŽุง ุชูŽุฃู’ุณูŽูˆู’ุง ุนูŽู„ูŽู‰ ู…ูŽุง ููŽุงุชูŽูƒูู…ู’

โ€œ(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamuโ€

Jika memang engkau kehilangan Hpmu yang berharga, tidak perlu bersedih karena inilah takdir yang terbaik untukmu. Siapa tahu engkau kelak akan mendapatkan ganti yang lebih baik. Engkau belum kunjung diangkat jadi PNS, jadi khawatir pula karena memang itu belum takdirmu. Engkau belum juga diterima di universitas pilihanmu, jangan pula khawatir karena takdir Allah sama sekali tidaklah kejam. Tidaklah perlu bersedih terhadap apa yang luput darimu.

Faedah kesembilan

Jangan pula terlalu berbangga dengan nikmat yang kita peroleh karena itu sama sekali bukanlah usaha kita. Itu semua adalah takdir yang Allah tetapkan dan rizki yang telah Allah bagi[17]. Oleh karena itu, Allahย Taโ€™alaย berfirman,

ูˆูŽู„ูŽุง ุชูŽูู’ุฑูŽุญููˆุง ุจูู…ูŽุง ุขูŽุชูŽุงูƒูู…ู’

โ€œDan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamuโ€

Faedah kesepuluh

Janganlah menjadikan nikmat Allah sebagai sikap sombong dan membanggakan diri di hadapan lainnya. Itulah selanjutnya Allahย Taโ€™alaย berfirman,

ูˆูŽุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ู„ูŽุง ูŠูุญูุจู‘ู ูƒูู„ู‘ูŽ ู…ูุฎู’ุชูŽุงู„ู ููŽุฎููˆุฑู

โ€œDan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diriโ€

Sebagai penutup dari sajian ini, ada penjelasan yang amat bagus dari Asy Syaukaniย rahimahullah.ย Beliauย mengatakan, โ€œJanganlah bersedih dengan nikmat dunia yang luput darimu. Janganlah pula berbangga dengan nikmat yang diberikan padamu. Karena nikmat tersebut dalam waktu dekat bisa sirna. Sesuatu yang dalam waktu dekat bisa sirna tidak perlu dibangga-banggakan. Jadi tidak perlu engkau berbangga dengan hasil yang diperoleh dan tidak perlu engkau bersedih dengan sesuatu yang luput darimu. Semua ini adalah ketetapan dan takdir Allah โ€ฆ Intinya, manusia tidaklah bisa lepas dari rasa sedih dan berbangga diri.โ€[18]

Jadi tidak perlu berbangga diri dan bersedih hati atas nikmat Allah yang diperoleh dan luput darimu. Pahamilah bahwa itu semua adalah takdir Allah, tak perlu sedih. Itu semua adalah yang terbaik untuk kita, mengapa harus terus murung. Itu semua pun sewaktu-waktu bisa sirna, mengapa harus berbangga diri.

Semoga sajian tafsir ini bisa bermanfaat bagi kita dan semakin menenangkan hati yang sedang sedih.

Alhamdulillahilladzi bi niโ€™matihi tatimmush sholihaat. Sungguh menenangkan jika kita terus mengkaji firman-firman Allah.

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal




https://www.ayojalanterus.com/2019/04/nasihat-bijak-hari-ini-jangan-berputus.html

News Feed