Memulai Tahun 2019, Aura Kasih Bagikan Foto Akad dengan Sang Suami

Sebelum ada TransJakarta, Ibu Kota punya berbagai jenis angkutan umum bahkan namanya legendaris sampai hari ini. Yang paling terkenal mungkin angkutan berupa bus tanggung, sebut saja Kopaja, Metromini, Koantas Bima, sampai PO Deborah. Namun lantaran peraturan pemerintah hingga urusan keamanan dan kenyamanan penumpang yang kini diutamakan, angkutan tersebut sudah banyak yang tak beroperasi. Apalagi beberapa tahun belakangan, angkutan ini memang dikenal sering ugal-ugalan.

Dari sekian banyak nama bus, yang bertahan cukup lama salah satunya Metromini. Dengan bodi berwarna setengah oranye setengah biru yang dibatasi aksen putih, bus yang satu ini berderu di banyak titik di Jakarta. Yup, Metromini punya banyak trayek sehingga masyarakat yang tinggal di Jakarta pasti sering sekali melihat angkutan yang satu ini berlalu lalang. Tapi bagaimana ya nasibnya sekarang?

Sempat Jadi Bus yang Diandalkan pada Asian Games 1962, Metromini Justru Dilarang Seliweran di Gelaran Asian Games 2018

Sumber: merdeka.com

Mengutip kompas.com, jika menarik sejarah, keberadaan bus tanggung itu semula lahir dari helatan perdana Asian Games tahun 1962. Kala itu, Presiden Soekarno mengadakan bus-bus untuk mengantar jemput atlet dari Bandara Kemayoran ke Gelora Bung Karno. Setelah Asian Games 1962 dan Ganefo selesai, bus-bus itu lantas dijadikan transportasi masyarakat Jakarta.

Selanjutnya, dari buku “Planning the Megacity: Jakarta in the Twentieth Century” karangan Christopher Silver (2007), Metro Mini saat itu dianggap lebih unggul lantaran bisa bermanuver lebih lincah dibanding bus-bus Mercedes-Benz dan Dodge yang dioperasikan Damri. Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin pada 1976, mengumpulkan 700 bus yang beroperasi sejak 1962 di bawah satu bendera, PT Metro Mini.

Baru di tahun 1980, bus-bus yang sudah terlihat tua diperbarui dengan bus-bus Toyota. Hingga awal 2000-an, armadanya terus bertambah dan menjangkau hampir seluruh jaringan jalan raya Ibu Kota. Tarifnya yang murah dan rata untuk sekali jalan membuat bus ini menjadi andalan.

Namun, pada helatan Asian Games 2018 lalu, yang terjadi justru sebaliknya. Metromini tak lagi jadi bus andalan, keberadaannya pun ‘diasingkan’. Selama helatan Asian Games, trayek Metromini dialihkan, bahkan ada penindakan untuk bus yang tak layak jalan. Gagasan ini muncul saat Basuki Tjahaja Purnama masih menjabat jadi Gubernur DKI Jakarta.

Sebagian besar armada Metro Mini dan Kopaja yang menguasai jalanan umurnya melebihi 10 tahun, track record-nya yang sering ugal-ugalan bahkan jadi penyebab kecelakaan membuat Ahok–sapaannya, tak ingin melihat Metromini beroperasi lagi di jalanan Ibu Kota.

Lewat Metromini, Kita Mengenal Keberagaman Masyarakat Ibu Kota

 Gambar terkait

Sumber: ibenimages.com

Kapan lagi melihat ‘warna warni’ masyarakat Jakarta kalau bukan di angkutan umum? Bukan hanya pekerja, kita pun sering menjumpai pedagang, anak sekolah, bahkan pengamen jadi penumpang bus Metromini. Sebelum maraknya kendaraan bermotor, Metromini jadi andalan orang-orang. Pergi ke kantor, ke pasar, ke sekolah, bahkan rumah sakit, cukup naik bus tanggung ini.

Tapi kalau sedang tak mujur, bahkan bisa saja kita jadi korban para copet. Itulah dinamikanya. Keras memang, belum lagi kalau angkutannya sedang penuh sesak. Jangan harap mencium aroma wangi, yang ada di hadapan kita justru peluh diri sendiri dan orang lain bahkan bau badan orang lain yang kelewat menyengat.

Untukmu yang pernah melipir ke terminal Blok M, pasti sempat merasakan banyaknya Metromini dengan belasan trayek berjejer di sepanjang terminal. Ditemani panas, atau kadang hujan, kadang pakaian yang semula rapi jadi kusut begitu turun dari Metromini. Efek berdesak-desakan. Satu-satunya sumber hawa sejuk hanya angin yang berhembus masuk dari jendela bus.

Berkaca Dari Keberadaan Metromini, Dulu Kita Sempat Jadi Orang yang Tak Tertib Lho

Hasil gambar untuk metromini asian games

Sumber gambar: kompas

Lebih tepatnya penumpang yang tak tertib. Bayangkan, sebagian besar dari kita pernah tidak buang sampah sembarangan saat di dalam Metromini? Entah menaruhnya di lantai bus, menyelipkan di dekat pintu, atau bahkan yang paling ‘frontal’ yaitu melemparkan sampah kecil lewat jendela atau pintu bus? Betapa tak tertibnya penumpang kala itu.

Pun angkutan ini pun secara tak langsung ‘mendidik’ kita jadi penumpang yang ugal-ugalan. Menyetop bus bisa dimana saja, entah pada saat kita hendak naik, maupun saat sudah tiba di tujuan. Kini kalau dibandingkan saat di TransJakarta, kamu tak bisa sesembrono itu kan? Urusan makan dan minum di dalam bus, dulu tentu sesukamu. Bahkan perokok pun bebas mengepulkan asap rokoknya. Bersyukurlah kini kondisi bus angkutan jauh lebih manusiawi. Tak ada lagi asap rokok, bahkan urusan makan dan minum pun ada larangannya.

Kalau diberi skala 1-10, kira-kira berapa nilai yang akan kamu sematkan untuk angkutan yang kini derunya mulai lesu itu? Meski masih dijumpai di beberapa titik, Metromini jelas tak sebanyak dulu. Bahkan karena faktor pendapatan yang kian berkurang, sepertinya profesi kernet Metromini perlahan menghilang. Tak akan lagi kamu menjumpai kernet dengan bunyi gemerincing koin di tangannya tanda ia menagih ongkos, atau kernet yang membantu penumpang untuk naik dan turun dari bus.

Sekarang, penumpang langsung diarahkan ke supir untuk membayar ongkos sebesar Rp 4.000. Lihatlah, dari segi harga saja kini Metromini jelas sukar bersaing dengan TransJakarta yang menawarkan tarif Rp 3.500 sekali perjalanan namun dengan armada yang jauh lebih nyaman dan dilengkapi pendingin udara.

Metromini kini berada di titik akhirnya. Digantikan roda-roda bus modern yang menawarkan pendingin udara dan beragam kenyamanan lainnya. Lantainya yang berlubang, deru mesin tuanya, dan kisah-kisah para penghuninya sebentar lagi hanya akan jadi kenangan mereka yang pernah menumpang bus oranye nan legendaris ini.

Artikel Asli

News Feed