Malam-malam Terakhir Mayjen S. Parman, Pahlawan Revolusi yang Gugur di Tangan Tjakrabirawa

Kekejaman gerakan komunis yang dikenal dengan G30S/PKI, membawa luka yang sangat mendalam bagi seluruh rakyat Indonesia. Termasuk keluarga dari para perwira yang menjadi korbannnya. Salah satunya adalah Mayjen Siswondo Parman. Dilansir dari tirto.id, sosok kelahiran Wonosobo, 4 Agustus 1918, menjadi salah satu korban kekejaman dari pasukan pengawal presiden, Tjakrabirawa.

Bersama dengan ketujuh Jenderal dan beberapa orang perwira menengah lainnya, ia dieksekusi di rumahnya dan jasadnya kemudian dibawa ke daerah Lubang Buaya. Tak ada yang menyangka, jika namanya masuk sebagai sasaran penculikan atas nama isu Dewan Jenderal yang tengah santer dibicarakan pada saat itu.

Isu Dewan Jenderal yang sering dibicarakan [sumber gambar]

Pada saat malam nahas tersebut, Jenderal dengan dua bintang di pundak itu sejatinya hendak beristirahat menuju ke peraduan. Dilansir dari news.detik.com, Parman dan sang istri memiliki kebiasaan tidak tidur terlebih dahulu di setiap malam Jumat. Meski sebenarnya waktu telah beranjak larut hingga pukul 24.00 WIB. Pasangan suami istri yang tinggal di Jalan Serang Nomor 32 itu, baru tidur tepat pada tengah malam.

Malam itu, Kamis 30 September 1965, keduanya dikejutkan oleh pemandangan yang tak biasa. Segerombolan burung sriti dan gereja secara tiba-tiba berdatangan dan memenuhi ruang tamunya. Sontak, Parman pun bertanya pada sang istri perihal pemandangan aneh tersebut.

Burung gereja dan sriti yang jadi pertanda malapetaka [sumber gambar]

“Lo kok banyak sekali burung gereja di kamar tamu itu?” kata Parman seperti dikutip dari buku ‘Kunang-kunang Kebenaran di Langit Malam‘, yang dilansir dari news.detik.com.

Sang istri pun hanya menjawab sambil lalu saja. “Ah sudahlah, tidur saja,” jawab Sumirahayu, sang istri yang dilansir dari news.detik.com.

Belum hilang rasa terkejutnya, sang Jenderal kembali dibuat kaget dengan kedatangan burung sriti. Sama seperti kejadian yang pertama, hewan bersayap itu terbang kian kemari memenuhi ruang tamunya.

Ilustrasi burung sriti [sumber gambar]

Lho, sekarang banyak burung Sriti?” ujarnya yang dilansir dari news.detik.com

Karena hari sudah terlalu larut, sang Jenderal dan sang istri pun akhirnya memutuskan untuk segera tidur. Keduanya tak ada yang menyangka, rombongan burung gerja dan sriti tersebut ternyata menjadi pertanda awal malapetaka bagi Parman. Bahwa rumahnya sebentar lagi akan dikepung oleh pasukan Tjakrabirawa dari satuan Pasopati yang hendak membunuh Parman.

Pada pukul 03.00 dini hari, sang istri Sumirahayu telah bangun terlebih dahulu untuk merasakan sejuknya hawa pagi. Satu jam kemudian, suasana yang masih sepi dan hening itu mendadak dikejutkan dengan sejumlah kendaraan truk tentara merapat ke rumahnya. Derap suara tentara yang turun dari truk tersebut, begitu ribut hingga membangunkan sang Jenderal. Di antara kantuknya, Parman mulai mengenali sosok pasukan misterius itu.

Ilustrasi pasukan Tjakrabirawa menjemput para Jenderal [sumber gambar]

Lho, kok Tjakra,” tanya Parman.

Ya, Pak! Saya diperintahkan Panglima Tertinggi (Sukarno) untuk mengambil Bapak,” jawab salah satu prajurit Tjakra yang dilansir dari news.detik.com

Salah seorang prajurit kemudian menjelaskan pada dirinya bahwa keadaan negara saat itu tengah menghadapi kondisi genting. Sumirahayu yang mencium gelagat ketidakberesan dari pasukan tersebut, kemudian menanyai surat perintah dan identitas si penjemput. Jenderal Parman sendiri kembali ke kamarnya untuk berganti seragam dinas militer.

Ilustrasi saat penjemputan Jenderal S Parman [sumber gambar]

Saat berjalan keluar, Parman dikejutkan dengan banyaknya pasukan Tjakrabirawa di halaman rumah. Di bawah ancaman senjata, Jenderal Parman didesak agar segera menaiki truk. Ia sempat berontak sesaat dan memerintahkan sang istri agar menghubungi Menpangad Letjen Ahmad Yani. Sayang, sambungan telepon rumah sudah diputus. Sosoknya pun kemudian menghilang bersama pasukan Tjakrabirawa di tengah gelapnya suasana subuh pada saat itu.

Tiga hari kemudian, tersiar kabar bahwa jenazah Jenderal S Parman baru diketemukan di daerah Lubang Buaya. Usut punya usut, dirinya ternyata tidak dibawa menghadap ke Sukarno di Istana negara, melainkan ke sebuah tempat di mana ia akhirnya meregang nyawa bersama Jenderal lainnya. Tepat pada hari ulang tahun TNI, 5 Oktober 1965, jenazah Mayjen S. Parman dan lainnya dikebumikan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta Selatan.

Jenazah Jenderal S Parman ditemukan setelah 3 hari [sumber gambar]

Kedatangan burung gereja dan sriti di rumahnya sebelum kejadian nahas tersebut, sejatinya sempat menggangu pikiran sang Jenderal. Namun tak begitu ditanggapi oleh sang istri. Isyarat alam itu akhirnya terjadi dengan banyaknya pasukan Tjakrabirawa yang datang ke rumahnya. Membawa pesan bagi sang Jenderal bahwa dirinya tak lama lagi akan segera dijemput oleh kematian.

Artikel Asli

News Feed