Maia Estianty Pamer Senyum Sumringah Saat Berfoto Bareng David Beckham

Untuk negara-negara berkembang diterpa krisis merupakan sesuatu yang menakutkan. Negara bisa hancur bahkan sampai porak poranda, adapun masa depan negara ditentukan dengan kestabilan ekonomi yang terjaga. Baru-baru ini analisis yang dilakukan oleh Nomura Holdings Inc, menunjukan ada beberapa negara berkembang yang dipandang memiliki risko paling kecil terpapar krisis moneter salah satunya, adalah Indonesia.

Indonesia termasuk negara risiko yang sangat kecil untuk mengalami krisis, analisis Nomura didasarkan pada model peringatan awal krisis yang dinamakan Damocles. Model tersebut diperiksa dari beberapa faktor loh seperti cadangan devisa, tingkat utang, suku bunga dan impor.

Selebihnya ada beberapa penjelasan terkait delapan negara berkembang yang memilki risiko paling kecil terpapar krisis moneter. Selain itu terdapat juga beberapa negara berkembang lainnya serupa Indonesia yang memperoleh skor nol terkait risiko krisis moneter. Kira-kira siapa saja?

Indonesia Memiliki Cadangan Devisa Milliaran Dolar

Meskipun beberapa waktu lalu Indonesia mengalami pelemahan terhadap Dollar AS. Pelemahan tersebut pun dipandang sebagai cenderung gradual dan sejalan dengan kebijakan pengetatan moneter yang dilakukan bank sentral AS Federal Reserve. Selain itu, cadangan devisa yang dimiliki Indonesia cukup tinggi guna menahan pelemahan nilai tukar rupiah.

Dilain hal pemerintah memiliki salah satu cara untuk melakukan serangkaian upaya guna memperbaiki defisit transaksi berjalan. Cadangan devisa yang tercatat saat ini adalah 117 Milliar Dollar AS. Rendahnya utang terhadap produk domestik bruto (PDB) membuat negara ini dinilai cukup kuat menahan pelemahan nilai tukar.

Meski Underperform Brasil Masih Jauh dari Kata Krisis

Perekonomian negeri Samba memang sedang mengalami pemulihan meski masih cenderung underperform yang didorong oleh konsumsi dalam negeri. Pertumbuhan ekonomi Brasil sejauh ini pun mencapai 1,1 persen yang sehingga masih di bawah ekspektasi yakni 2,7 persen.

Di sisi lain nilai tukar real Brasil memang cenderung buruk dan terpuruk terhadap dollar AS selama 2,5 tahun terakhir. Bank sentral Brasil telah melakukan serangkaian upaya stabilisasi real, antara lain kebijakan swap valas. Pada awal Agustus 2018 lalu pun suka bunga acuan ditahan di level 6,5 persen.

Pertumbuhan Negara Tetangga Filipina, Mencapai 6 Persen!

Filipina termasuk dalam kategori negara yang terpapar risiko krisis moneter yang kecil, pertumbuhan negara tetangga ini tinggi karena mencapai 6 persen pada kuartal II 2018. Meskipun pertumbuhan ekonomi Filipina dihantui beberapa risiko antara lain inflasi yang tinggi dan risiko ekternal.

Bank sentral Filipina menyatakan, perekonomian Filipina cukup resilien menghadapi risiko eksternal termasuk ke dalam krisis di sejumlah negara berkembang seperti Turki dan Argentina. Gubernur Banko Sentral Ng Filipinas Nestor Espenilla mengungkapkan, fundamental ekonomi Filipinan sangat bagus.

Pertumbuhan (ekonomi) kita sangat kuat, posisi fiskal kita tersusun rapi, dan posisi eksternal kita cenderung baik meski defisit, serta rasio utang rendah,” kata Espenilla seperti dikutip dari Philippines Star.

Meski Dijatuhkan Sanksi oleh AS Rusia Tak Pernah Mencium Kata Krisis

Pertumbuhan eknomi negara Rusia dipandang memiliki prospek yang cukup baik, meski diyakini tidak akan terlalu tinggi. Tapi ini hebat loh karena negara Paman Sam telah menjatuhkan beberapa sanksi tapi perekonomian Rusia tidak goyang. Dmity Medvedev, Perdana Mentri Rusia mengatakan bahwa sejumlah indikator perekonomian Rusia tercatat baik.

Bahkan rasio utang luar negeri mencapai level minimum. Beberapa hal yang membuat Rusia kuat adalah daya saing industri manufaktur Rusia yang juga menguat, serta subtitusi impor terjadi di dalam sejumlah segmen, eskpor non-migas pun juga tumbuh positif termasuk peningkatan peran dalam sektor keuangan.

Baht, Mata Uang Berkinerja Terbaik di Asia

Cukup berkebalikan dengan beberapa negara berkembang lain, nilai tukar Baht Thailand justru menguat dan cenderung stabil wajar kalau mata uang tersebut berkinerja terbaik di Asia. Fundamental ekonomi Thailand yang kuat diperkasai oleh Baht yang menjadi fundamentalnya.

Inflasi di negeri Gajah Putih tersebut rendah dan surplus transaksi berjalannya pun besar. Satu sisi yang mendorong perekonomian Thailand makin kuat adalah pertumbuhan sektor pariwisatanya. Thailand pun adalah eksportir besar mobil dan barang-barang lainnya, yang juga memberikan kontribusi penting terhadap surplus transaksi berjalan.

 

 

 

Artikel Asli

News Feed