Liam Nikuro : Selebgram Virtual yang Wajahnya Sangat Tampan

Momen libur lebaran ada jutaan kendaraan yang pergi meninggalkan Jakarta untuk mudik ke kampung halaman. Ruas jalan yang biasa penuh dan padat, mendadak sepi dan lenggang. Tapi dibalik rasa bahagia atas sepinya jalan Ibu Kota, hal lain yang justru mengejutkan pada H-1 Lebaran kemarin, kualitas udara Jakarta ternyata masih sangat buruk.

Dilansir dari CNN Indonesia, Juru Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia, Bondan Andriyanu, mencatat Air Quality Index (AQI) Jakarta pada Selasa (4/6) atau H-1 Lebaran polusi udara sempat menyentuh 210 US AQI.

Dengan demikian, kualitas Kota Jakarta menduduki posisi pertama dengan kualitas udara paling buruk sedunia. Raihan angka ini mengalahkan kota Chendu, Cina dengan 171 US AQI, dan kota Dubai, Uni Emirat Arab.

“Jakarta sempat nomor satu (terburuk) dengan US AQI 210. Dengan angka ini berarti masuk kategori sangat tidak sehat. Padahal Jakarta sangat lowong saat itu,” kata Bondan pada keterangannya kepada awak media, Kamis (6/6).

Ini menjadi sesuatu yang menarik perhatian, karena pada hari tersebut kendaraan bermotor yang jadi sumber polutan terbesar di Jakarta sudah berkurang. Untuk itu Bondan menuding ada sumber polutan lain yang membuat udara Jakarta sangat buruk.

Selanjutnya, beliau meminta agar Pemprov Jakarta bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan bisa mencatat sumber-sumber polusi dan tren penurunan hingga peningkatan AQI US Jakarta.

“Harusnya tren ini ini dicatat oleh KLHK. Kadang tinggi, kadang rendah, itu harus dicari sumber polutannya. Lalu supaya ada langkah strategis yang bisa dilakukan,” ujar Bondan.

Kandungan Particulate Matte (PM) 2,5 Jakarta juga sangat tinggi pada 4 Juni 2019 pukul 00.00 WIB dengan angka 135 mikrogram/m3. Dengan angka ini, PM 2,5 di Jakarta masuk kategori tidak sehat. PM 2,5 adalah senyawa partikel berukuran kurang dari 2,5 mikrometer. Partikel ini mengancam kesehatan masyarakat karena bisa masuk ke paru-paru hingga jantung manusia.

Dasrul Chaniago selaku Direktur Pengendalian Pencemaran Udara mengatakan, pada hari Lebaran dan malam takbiran, PM 2,5 meningkat karena banyak kendaraan yang turun di jalan.

“Tipikal udara Jabodetabek saat Lebaran. Pada hari pertama biasanya PM 2.5 naik, karena terjadi macet habis Salat Id, mobil-mobil ke luar rumah untuk silaturahmi,” kata Dasrul.

Alat pemantau PM 2,5 bisa mengetahui kondisi udara tingkat sehat, tidak sehat bagi orang sensitif (gangguan pernapasan atau asma), dan tidak sehat di suatu area. Alat ini bisa mengukur debu dengan partikel di bawah 2,5 mikrometer yang bisa masuk sampai ke paru-paru manusia. Maka jika partikel udara tersebut terhirup oleh masyarakat yang berada di area dengan tingkat PM 2,5 bisa membahayakan paru-paru. Jika dibiarkan dalam waktu lama bisa memicu penyakit asma, bronkitis, dan Penyakit Paru Obstruktif Konstruktif (PPOK).

https://gobagi.com/liam-nikuro-selebgram-virtual-yang-wajahnya-sangat-tampan/

News Feed