Khalifah Umar, Jokowi & Lampu Minyak

Oleh:

Djadjang Nurjaman, pemerhati media dan ruang publik

DALAM debat kedua Jokowi mengaku sering menemui rakyat kecil untuk mendapat masukan langsung. Bukan laporan asbun  (asal bunyi) seperti dituduhkan Prabowo.

Sebagai bukti Jokowi bercerita pernah menemui nelayan tengah malam, hanya berdua tanpa sopir. Kalau benar cerita Jokowi mengingatkan kita pada kisah Khalifah Umar bin Khattab.

Khalifah kedua setelah Abu Bakar As-shidiq ini dikenal sebagai penguasa yang senang melakukan blusukan di malam hari (incognito). Tanpa pengawalan. Tujuannya untuk mendapatkan gambaran langsung apa yang terjadi di tengah masyarakat.

Ketua DPP PDIP bidang Kemaritiman Rokhmin Dakhuri pernah menyebut Jokowi seperti Umar Bin Khattab. Dekat dengan rakyat.

Setelah ditelusuri ternyata Jokowi benar.  Tanggal 2 Februari 2019, atau dua pekan sebelum debat kedua, Jokowi pernah menemui nelayan Tambak Lorok, Semarang.

Gambar dan video Jokowi bisa ditemukan di akun facebook Agus Suparto. Pada akun tersebut ada satu foto yang sangat khas Jokowi. Dia duduk di patok penambat kapal berwarna putih, sedang berbicara dengan dua orang nelayan. Tidak ada orang lain di sekitarnya.

Foto ini secara teknis fotografi maupun sudut pengambilannya sangat bagus. Jadi sangat kelihatan foto ini didesain khusus. Sesi foto presidensial ala Jokowi.

Berikutnya ada video Jokowi berjalan dikerumuni warga. Tanpa pengawalan. Warga banyak yang selfie dan mengabadikannya dengan handphone masing-masing.

Siapa Agus Suparto? Dia adalah fotografer pribadi Jokowi. Teman satu kampus di UGM ini sudah lama menjadi fotofrafer Jokowi. Sejak masih menjadi Walikota Solo.

Di kalangan wartawan Istana, Agus Suparto sangat dikenal. Banyak foto-fotonya digunakan untuk foto resmi kepresidenan. Agus sudah sangat mengenal karakter Jokowi. Dia sangat paham dari sudut dan gaya seperti apa yang disenangi Jokowi.

Dari sini sangat jelas bahwa klaim Jokowi dia hanya pergi berdua sopir, tidak benar. Setidaknya ada fotografer pribadi yang menyertainya.

Melakukan aktivitas tanpa kehadiran kamera, bukanlah gaya Jokowi. Gak Jokowi banget. Jangankan  menemui nelayan pada malam hari. Untuk hal yang remeh temeh, bahkan urusan ibadah seperti salat, adanya kamera tak boleh terlewatkan.

Sejumlah media mengutip Ketua RW XIII Tambak Lorok Haji Sueb bahwa Jokowi datang tanpa pengawalan ketat. Bukan tanpa pengawalan.

Okaylah kita berpikiran positif, bahwa Jokowi datang tanpa pengawalan. Tapi klaim hanya berdua sopir, jelas tidak benar. Setidaknya ada fotografer pribadi yang menyertainya. Mudah-mudahan penjelasan ini juga tidak diralat oleh Jokowi, bahwa dia datang bersama fotografer yang sekaligus merangkap sopir?

Klaim Jokowi yang juga terbantahkan adalah soal waktu kedatangan. Dia menyebut tengah malam. Namun Haji Sueb menyebut kedatangan Jokowi pada pukul 21.00 Wib.

Kalau melihat banyaknya warga yang mengerubunginya, kelihatannya Haji Sueb lebih benar. Tengah malam pasti suasananya sudah lebih sepi, anak-anak sudah pada tidur.

Mudah-mudahan fakta ini tidak lagi dibantah oleh Pak Jokowi bahwa ada perbedaan waktu antara jam tangan  yang dipakai oleh Haji Sueb dan jam tangan yang dipakainya.

Kita akan sulit berdebat soal ini dengan para pendukung Jokowi. Sebagai presiden, jam tangannya pasti lebih mahal dan lebih akurat dibanding jam tangan Haji Sueb.

Dari beberapa fakta tadi jika dihubung-hubungkan,  ternyata kita juga menemukan beberapa kebetulan.

Pertama, kunjungan dilakukan hanya dua pekan sebelum debat kedua berlangsung. Temanya masalah pangan, energi, lingkungan hidup, sumber daya alam dan infrastruktur. Sebelumnya kita tidak pernah mendengar Jokowi melakukan kegiatan serupa.

Kedua, yang dikunjungi kampung nelayan dan pada malam hari. Yang menyebut Jokowi seperti Khalifah Umar Bin Khattab adalah Ketua DPP PDIP Bidang Kemaritiman. Jadi ini semacam penguatan branding. Pencitraan.  Sayang properti yang dibawa Jokowi tidak cukup lengkap. 

Dalam satu riwayat disebutkan Khalifah Umar pernah memanggul sendiri sekantung gandum sebagai hukuman kepada dirinya sendiri.

Malam itu ketika sedang berkeliling, Umar mendapati seorang ibu sedang merebus batu. Anak-anaknya tertidur kelelahan menanti makanan yang tak kunjung masak.

Padahal dalam berbagai kunjungan,  Jokowi sering tertangkap kamera melempar-lemparkan makanan kepada warga yang menyambut kedatangannya.

Ngomong-ngomong soal nama Umar, mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin pernah bercerita. Di kalangan teman dekatnya, juga di Jordania,  Prabowo dipanggil dengan nama Umar. Nama ini merujuk pada sikap Prabowo yang tegas seperti Khalifah Umar Bin Khattab. Nah…..The End.**

Artikel Asli

News Feed