Diterpa Isu Asmara, Istri Mendiang Herman “Seventeen” Merasa Sukar Kolaborasi bareng Ifan

Ini memang menyebalkan, selalu jadi tempat berkeluh kesah oleh para teman. Bukan, bukan tak suka atau tak ikhlas mendengar mereka bercerita. Hal lain yang justru kusesali adalah, persoalan serupa yang kerap kali diulangi lalu diceritakan kembali.

Minggu lalu ia sudah datang untuk mencurahkan keraguannya dengan sang pacar, meminta saran langkah apa yang dilakukan. Beberapa waktu setelahnya, ia kembali terlihat pergi jalan dan berkencan. Lalu kali ini, kembali datang sembari menangis, sebab ia ternyata diduakan. 

Rasanya tak hanya aku saja, kalian pun tentu punya jenis teman yang serupa. Sering datang untuk berkeluh kesah. Meminta saran untuk langkah yang ingin dilakukannya. Tapi akhirnya tetap tak mendengar apa yang kita sampaikan padanya. 

Datang dengan Kondisi yang Buat Kita Kasihan, Seakan Masalahnya Tak Punya Jalan Keluar

Namanya juga teman, kita tentu tak sampai hati jika tak bersedia menemani ia yang mungkin sedang sedih. Awalnya, kita mungkin kasihan padanya, lalu berinisiatif untuk memberi ia saran untuk menyelesaikan persoalan. Entah cerita diselingkuhi pacar, persoalan dalam pekerjaan, drama di pertemanan, atau cerita lain yang memang membuat sedih. 

Sebisa mungkin kita tentu akan diam, menunggunya bercerita hingga mendengar semua keluuh kesah yang ia punya. Walau pada beberapa kasus, mereka kadang hanya terlalu berlebihan. Memperbesar masalah yang seharusnya bisa diselesaikan. 

Tiba-tiba Bertanya, “Baiknya Aku Gimana Ya?”

Menjadikan kita sebagai teman curhat, itu artinya dia memang sudah percaya pada kemampuan kita. Selanjutnya ia mungkin akan meminta saran. Tentang langkah mana yang kayak untuk dijalankan. Dan sebagai teman yang baik, tentu kita akan berusaha sebisa mungkin membantunya menemukan jalan yang paling benar. Namun lagi-lagi, saran kita hanya sekedar didengarkan. Bukan untuk dilakukan. 

Bersikap Jadi Teman yang Baik, Kita Pun Memberinya Saran, Tapi…

Ini jadi bagian paling menyebalkan dalam menghadapi teman yang sering curhat untuk meminta saran. Susah payah kita mencari cara terbaik untuk disampaikan, setelah babak panjang saran yang kita sampaikan. Hal selanjutnya yang menjadi keputusan akhir baginya justru sering menyebalkan. 

“Yang kamu bilang bener sih, tapi kayanya dia nggak seburuk itu deh. Jadi aku mau kasih kesempatan satu kali lagi buat dia”. 

Sebenarnya tak masalah jika ia memang masih percaya pada pacar yang mungkin sudah menduakannnya. Tapi jika ternyata ia masih akan tetap pada pendiriannya, lantas untuk apa meminta saran dari kita? Menyebalkan! 

Jangankan untuk Berterimakasih Atas Saran yang Kita Berikan, Ia Justru Malah Menilai Kita Tak Paham

“Kamu nggak bakalan ngerti, gimana rasanya jadi aku”. 

Sedikit ambigu memang, meminta kita mendengar dan memberi saran namun dibalas dengan keraguan karena katanya tak paham. Begini, memilih teman untuk dimintai saran itu artinya kita sudah percaya jika ia bisa membantu kita. Lalu jika ia sudah memberi saran, itu artinya kitalah yang memintanya.

Kamu boleh saya tak buru-buru percaya jika memang masih meragukannya. Tapi berkata bahwa temanmu tak bisa mengerti isi hatimu jelas salah. Kalau memang tak percaya ia bisa mengerti apa yang kamu rasakan, kenapa curhat dengannya? 

Jika Memang Tak Mau Mendengar Sebaiknya Jangan Datang untuk Curhat dan Meminta Saran

Bukan sedang ingin hitung-hitungan pada teman atau merasa paling besar. Tapi sikap-sikap seperti itu memang menyebalkan. Sudah susah payah mendengar dan membantumu mencari saran, yang kau lakukan justru tetap berkelut pada kesalahan yang sama. Dan berubah atau melakukan saran yang diminta, lalu kembali datang untuk menceritakan kesalahan yang sama. 

Keresahan ini ditujukan untuk barisan teman yang selalu meminta saran, tapi jika sudah diberi saran tak pernah mau mendengarkan.

https://gobagi.com/diterpa-isu-asmara-istri-mendiang-herman-seventeen-merasa-sukar-kolaborasi-bareng-ifan/

News Feed