Belum Sembuh Luka dari Musibah, 5 Tindakan Kriminal di Palu Ini Justru Bikin Geram

Ada kesempatan dalam kesempitan. Mungkin, hal itulah yang kini terjadi di di Kota Palu, Sulawesi Tengah. Bagaimana tidak, di tengah hiruk pikuk pasca terjadinya bencana gempa bumi dan tsunami, peristiwa tersebut justru dimanfaatkan oleh segelintir oknum yang tak bertanggung jawab untuk berbuat kriminal. Alhasil, hal itu malah menambah panjang penderitaan masyarakat yang terkena dampak bencana.

Jika sebelumnya masyarakat menjarah swalayan dan SPBU demi memenuhi kebutuhan hidup, kini sebagian dari mereka mulai melirik hal lainnya. Dilansir dari kumparan.com, beberapa warga yang nekat mengambil barang sebuah toko elektronik, berhasil digagalkan oleh pihak kepolisian. Meski demikian, hal itu nyatanya masih belum cukup untuk membendung tindak kejahatan lain yang mulai menjalar di sejumlah wilayah.

Mencoba gasak barang-barang elektronik

Seolah tak puas setelah menjarah mall dan SPBU, beberapa warga kota Palu yang wilayahnya terdampak bencana mulai bergerak mencari sasaran lain. Kali ini tujuannya adalah toko elektronik dan sebuah pusat perbelanjaan. Bukan mencari bahan pokok seperti minuman dan makanan, mereka justru menggasak beberapa barang elektronik. Sesuai pernyataan, Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto yang dilansir dari news.detik.com.sekelompok orang berhasil diamankan lantaran kedapatan memasuki sebuah toko handphone secara ilegal.

ATM pun tak luput dari sasaran kejahatan

Keterbatasan sarana yang ditambah dengan minimnya tingkat keamanan pasca terjadinya bencana, membuat aktivitas Kota Palu lumpuh seketika. Mirisnya, Hal ini justru dimanfaatkan oleh sekawanan oknum tak bertanggung jawab untuk membobol sejumlah ATM di beberapa tempat berbeda. Dilansir dari liputan6.com, setidaknya, ada lima kali upaya membongkar untuk membongkar anjungan tunai mandiri itu. Beruntung, aparat kepolisian dengan sigap berhasil menggagalkan hal tersebut.

Pencurian dan aksi merusak alat pendeteksi tsunami

Entah sudah menjadi kebiasaan atau karena hal lainnya, infrastruktur milik pemerintah pun tak luput dari tangan jahil masyarakat. Seperti yang terjadi di Palu, alat pendeteksi tsunami yang telah dipasang, mendadak raib dari tempatnya. Beberapa yang masih tersisa bahkan tak bisa lagi digunakan lantaran telah rusak atau memang sengaja dirusak. Dilansir dari finance.detik.com, Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan pun angkat  bahkan menghimbau agar alat-alat tersebut tak dicuri.

Alat miliaran rupiah yang kini mangkrak tak berguna [sumber gambar]

Musibah yang dimanfaatkan oleh peminta sumbangan fiktif

Bencana gempa dan tsunami yang terjadi di Palu, sedemikian teganya dimanfaatkan oleh oknum tertentu yang mencari untung dengan kedok sumbangan. Dilansir dari liputan6.com, para kawanan penipu itu di beraksi di sebuah kota dengan modus mencari sumbangan dana, untuk disalurkan pada korban gempa dan tsunami di Palu dan Donggala. Tak hanya itu, mereka juga melakukan hipnotis untuk memperdayai korban. Kabar ini meluas setelah sebelumnya beredar sebagai pesan berantai.

Ilustrasi minta sumbangan korban gempa [sumber gambar]

Kerusuhan napi yang berujung pembakaran lapas

Tak hanya terjadi di masyarakat, tindakan kriminal yang berujung pada aksi vandalisme juga terjadi di dalam Rutan Klass B, Donggala. Selain berhasil melarikan diri, para tahanan juga sempat mengamuk dan membakar bangunan saat permintaan mereka untuk menjenguk keluarga tak digubris petugas. Karena minimnya tenaga pemadam kebakaran, Rutan tersebut akhirnya hangus dan rata dengan tanah. Menyisakan puing-puing yang ditinggal kabur oleh 100 napi binaannya. Menurut Kepala Rutan kelas IIB Donggala Saifuddin, yang dilansir dari regional.kompas.com, hal ini dipicu karena faktor yang telah disebutkan di atas.

Sangat disayangkan ya Sahabat Boombastis. Sebuah situasi pasca bencana yang seharusnya membuat masyarakat saling menguatkan satu sama lain, harus dinodai oleh segelintir orang picik yang mementingkan hawa nafsunya sendiri. Memang, kita mengutuk keras atas sejumlah tindakan kriminal itu. Namun hal tersebut belumlah cukup jika tidak diawali dengan kesadaran dari diri kita sendiri. Bagaimana menahan raga dan jiwa pribadi agar tak tergoda untuk berbuat kerusakan di tengah-tengah masyarakat.

Artikel Asli

News Feed