4 WNI Keturunan Berkarier di TNI, Chen Ke Cheng Malah jadi Bos Intelijen

GELORA.CO –  Enzo Zenz Allie (18) tiba-tiba menjadi perbincangan publik. Remaja keturunan Prancis-Indonesia ini berhasil lulus menjadi Calon Taruna (Catar) Akademi Militer (Akmil) TNI.

Bule ganteng yang lahir di Bandung, Jawa Barat, ini bercita-cita menjadi anggota Kopassus TNI Angkatan Darat.

Ia adalah putra dari pasangan almarhum Jean Paul Francois, warga negara Prancis, dan ibu bernama Siti Hajah Tilaria asal Sumatera Utara. Meski begitu, Enzo bukanlah WNI keturunan pertama yang ingin berkarier di TNI.

Berikut rangkuman 4 tokoh yang sukses ‘hidup’ jadi tentara, bahkan ada yang jadi bos intelijen di Badan Intelijen Strategis (Bais) TNI.

John Lie

Nama ini tidak asing bagi TNI Angkatan Laut. Pria bernama lengkap John Lie Tjeng Tjoan atau dikenal dengan nama Jahja Daniel Dharma, ini adalah seorang Tionghoa peranakan. Ia dikenal sebagai penyelundup senjata ulung untuk pejuang Ibu Pertiwi, sehingga mendapat julukan ‘Hantu Selat Malaka’.

Lie bergabung dengan Angkatan Laut Republik Indonesia (sekarang TNI AL) pada 1946 setelah dirinya bersama dengan puluhan rekannya di pelayaran KPM (Koninklijke Paketvaart Maatschappij) kembali ke Tanah Air pascakekalahan Jepang pada Agustus 1945.

Sebelum bergabung dengan militer Indonesia, ia telah mempelajari sistem pembersihan ranjau laut dari Angkatan Laut Kerajaan Belanda yang bermarkas di Pelabuhan Singapura.

Tak hanya itu, Lie juga mempelajari detail gerak-gerik pergerakan armada laut Belanda yang berpatroli di laut Indonesia.

Berbekal pengetahuan dan pengalamannya di dunia maritim, ia menemui Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana M Pardi, dan mengungkapkan keinginannya berjuang dengan Indonesia.

Singkat cerita, Lie, yang pensiun dengan pangkat laksamana muda (bintang dua), wafat pada 27 Agustus 1988. Ia mendapatkan gelar Pahlawan Nasional pada 2009 di era pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

John Lie dianugerahkan gelar Bintang Mahaputera Adipradana, sekaligus namanya diabadikan sebagai nama Kapal Perang Indonesia (KRI) jenis korvet canggih delapan tahun kemudian.

Pierre Tendean

Sama seperti Enzo Zenz Allie, pria ganteng bernama lengkap Pierre Andries Tendean ini lahir dari pasangan Dr. Aurelius Lammert Tendean, seorang dokter berdarah Minahasa, Sulawesi Utara, dan ibunya, Maria Elizabet Cornet, perempuan berdarah Prancis.

Ia merupakan anak kedua dari tiga bersaudara dan merupakan anak lelaki satu-satunya di tengah keluarga Tendean. Pada 1958, Pierre mendaftarkan diri di Akademi Teknik AD (Atekad), jalur militer yang membawanya ke satuan zeni tempur.

Lulus dari Atekad tiga tahun kemudian serta mendapat pangkat letnan dua, ia menjadi Komandan Pleton Batalyon Zeni Tempur 2 Kodam II/Bukit Barisan di Medan, Sumatera Utara.

Pada 1962, Pierre mengikuti pendidikan di sekolah intelijen di Bogor, Jawa Barat. Setelah itu, dirinya kemudian bertugas di Dinas Pusat Intelijen Angkatan Darat (DIPIAD) untuk menjadi mata-mata ke Malaysia sehubungan dengan konfrontasi antara Indonesia dengan Malaysia.

Pada 15 April 1965, Pierre dipromosikan menjadi letnan satu, dan ditugaskan sebagai ajudan Jenderal Besar TNI Abdul Haris Nasution.

Ia salah satu pahlawan revolusi akibat G30S/PKI. Pierre bersama keenam perwira lainnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.

Pierre dianugerahi gelar Pahlawan Revolusi Indonesia pada 5 Oktober 1965 berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No. 111/KOTI/Tahun 1965, dan meraih kenaikan pangkat luar biasa menjadi kapten.

Mochammad Idjon Janbi

Ia merupakan pendiri sekaligus komandan pertama Komando Pasukan Khusus (Kopassus) TNI AD.

Bernama asli Rokus Bernandus Visser ini adalah mantan prajurit komando Belanda yang pertama kali mengasah mental dan fisik anggota TNI AD terpilih untuk kemudian dilatih menjadi prajurit tangguh berkualifikasi komando.

Idjon punya tiga keahlian, yaitu kemampuan terjun komando, pasukan katak atau frogmen, serta kemampuan menembak di atas rata-rata. Ditambah lagi, kemampuan gerilya maupun antigerilya, demolisi, hingga intelijen.

Tidak heran, karena dirinya merupakan anggota dari Korps Speciale Troepen, pasukan terjun elite Belanda. Idjon, yang memiliki istri Sunda, Jawa Barat ini, meninggal dunia di Yogyakarta pada 1 April 1977.

Surya Margono

Marsekal Pertama (TNI) Surya Margono atau Chen Ke Cheng (Tjhin Kho Syin). Lahir di Mempawah, Kalimantan Barat, 5 Desember 1962, dari pasangan Tjhin Bitjung (ayah) dan Bong Chiukhiun (ibu).

Saat ini, Surya menjabat sebagai Direktur D Badan Intelijen Strategis (Bais) TNI, sesuai dengan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No.19/TNI/tahun 2017 tanggal 22 Maret 2017 dan diteruskan dengan Surat Perintah Panglima TNI No Sprin/522/III/2017 tanggal 23 Maret 2017.

Sebelumnya, ia menjabat Atase Pertahanan di KBRI Beijing, China, sejak 10 September 2009.

Selain Surya Margono, pejabat tinggi TNI keturunan Tionghoa antara lain Brigadir Jenderal TNI Teguh Santosa, Mayor Jenderal TNI Iskandar Halim, Brigadir Jenderal TNI Teddy Yusuf, Marsekal Pertama TNI Billy Tunas, Laksamana Pertama TNI FX Indarto Iskandar, dan Mayor Jenderal TNI Daniel Tjen. [vv]

https://www.gelora.co/2019/08/4-wni-keturunan-berkarier-di-tni-chen.html

News Feed