4 Fakta Soal DN Aidit PKI yang Jarang Terungkap

Kedua, hubungan Aidit dan Soekarno cukup erat. Relasi keduanya serupa senior dan junior. Pemimpin partai politik komunis di Indonesia itu menjadi murid kursus politik Soekarno. Aidit muda kerap mengantar jemput Soekarno dalam kursus itu.

“Wajar jika Aidit sebagai kader muda mengambil alih sementara untuk membuat situasi di Ikada kondusif,” kata Muhidin.

Ketiga, Aidit juga pernah menjadi loper koran. Hal itu dilakukan setelah koran Harian Rakyat, milik partainya, dibredel oleh pemerintah. Koran yang terbit pertama kali pada 31 Januari 1951 tersebut adalah salah satu media massa Indonesia pada periode 1950-1965. Sepanjang perjalanannya, Harian Rakyat yang semula bernama Suara Rakyat sudah dibredel sebanyak 9 kali.

“Saat menjadi loper koran, Aidit menjabat sebagai ketua partai, dan tujuannya ketika itu bukan pencitraan atau kampanye karena memang sedang tidak musim kampanye,” ujarnya.

Dia bercerita, pada 2 November 1959, seorang nona mendatangi Aidit yang sedang menjadi loper koran di depan pasar Stasiun Senen. Perempuan itu heran melihat Aidit dan bertanya mengapa bung (Aidit) berjualan koran. Pertanyaan itu dijawab Aidit, pembredelan Harian Rakyat satu pekan mengakibatkan kerugian, maka rakyat membela hariannya.

Menurut Muhidin, tindakan terjun langsung menjadi loper koran yang dilakukan Aidit menunjukkan tokoh itu berpolitik setiap hari bersama rakyat, bukan hanya saat atau menjelang pemilu.

Koran memiliki tempat yang spesial di mata partai yang dipimpin Aidit. Bahkan, Aidit pernah menegaskan dalam salah satu pidatonya, tidak boleh ada konferensi partai tingkat paling atas sampai bawah yang tidak membicarakan koran Harian Rakyat, terutama soal mengintensifkan penyebaran dan pemasukannya.

Harian Rakyat bergantung pada oplah dan penderitaan pekerja koran sama dengan penderitaan komunis lainnya, yakni berada di barisan depan musuh rakyat.

Keempat, Aidit berambisi untuk menjadi pemenang pemilu. Namun, hal itu tidak pernah terwujud karena terjadi peristiwa G30S PKI. Sekalipun dia sudah menghitung kekuatan lawan partainya, seperti PNI dan Masyumi yang kian lemah.

“Aidit seharusnya diperlihatkan seperti ini, dia tidak menakutkan, jangan diperlihatkan seperti hantu, karena semakin terbuka untuk didiskusikan, maka kritiknya pun bisa bermunculan di segala lini,” ucap Muhidin.

Artikel Asli

News Feed